11.2 The Other(s)

Standard

Malam.
Empat hari setelah pagi itu.

Saya sedang berada di private lounge di daerah Selatan Jakarta. Mengobrol dengan beberapa kolega kantor, ditemani tiga botol red wine dan pertunjukan live solo yang bernyanyi diiringi piano.
Membuang rupiah, menghabiskan waktu, seraya menunggu berkurangnya kepadatan lalu lintas usai jam kantor di luar sana.
Kami sudah hendak beranjak pergi dari tempat itu, ketika tiba-tiba saya melihat sosok yang saya kenal di pintu masuk.

Si dia.

Dan Si dia tidak sendirian.
Sesosok perempuan tampak menggamit lengannya dengan mesra, perempuan dengan kecantikan dan daya tarik luar biasa.
Terbukti dari reaksi beberapa yuppy yang duduk di meja bar, yang menatap perempuan itu lekat. Seolah siap menerkamnya bila saja Si dia tak ada di sana.

Semerta-merta Si dia melihat saya.
Si dia tersenyum dan melambaikan tangannya.
Gerakannya kontan membuat sang perempuan menyadari kehadiran saya.
Ada keramahan tertutup rasa puas yang merajalela.

Aha. Saya mengerti.
Saya akan dipertemukan dengan si Pacar Lain Nomor Satu.
Saya balas melambai, seraya tersenyum.
Memperhatikan saat Si dia dan Pacar Lain Nomor Satu diantar seorang waiter menuju meja mereka di sudut.

Saya hendak menunggu sejenak, namun meja kami telah ditutup.
Semua telah bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan tempat itu.
Tak ada pilihan lain.

Saya melangkah menghampiri meja Si dia.
Memberi sapaan dengan sentuhan lembut di bahunya.
Si dia menoleh, berlagak terkejut.
“Hei. Kamu di sini juga?”
Saya tersenyum. Jelas-jelas dia tahu saya ada di sini.
Saya mengatakan padanya rencana saya malam ini saat dia menelepon sore tadi.

“Ya. But I am about to go home,” sahut saya, sedikit menundukkan badan dengan sebelah tangan bertumpu pada pahanya.
“Saya duluan ya..”
Saya mencium pipinya.
Sekilas, namun perlahan.
Seraya menikmati tatapan lekat penuh curiga dari perempuan yang duduk di seberangnya melalui sudut mata.
Dia hanya diam, menghela nafas, tak berdaya.
Saya melangkah pergi, tanpa sedikit pun melirik pada si dia, Sang Pacar Lain Nomor Satu.

Pertemuan [tak] sengaja berikutnya, tiga hari kemudian.

Saya meneguk apple martini seraya memperhatikan lelaki yang tengah berbicara dengan bersemangat di sebelah saya di bar. Seorang senior manager di salah satu bank terbesar di Indonesia, yang saya temui di salah satu acara perusahaan minggu lalu.
Muda, ambisius, and so-damn-smart.
He almost turns me on, kalau saja dia tidak bertingkah seantusias ini di kencan pertama kami.
Terlalu antusias.
Dia pasti hanya akan merepotkan saja nanti.

Tapi terus terang, fisiknya membuat saya penasaran.
Wondering how he is on bed.
Dengan tubuhnya yang terpahat sempurna, hasil dari latihan fisik yang intens.

Sialan.
Lelaki ini memang cukup cerdas untuk tahu cara memberdayakan aset yang dia miliki.
Dia berhasil membuat imajinasi saya meliar ke sana-ke mari sepanjang malam. Cukup liar. Setidaknya cukup untuk membuat saya menyetujui ajakannya untuk ikut bersamanya ke tempat ini.

Lelaki itu terus berbicara.
Tak peduli hingar bingar musik telah menenggelamkan suaranya.
Tak peduli saya tak lagi mampu menangkap seluruh rentetan kata yang dia ucapkan.
Tapi saya pun tak peduli.

Setengah jam yang lalu saya telah berhenti mendengarkan dia.
Saya hanya berpura-pura mendengarkan. Dengan sesekali mencondongkan tubuh saya dengan menggoda ke arahnya. Tertawa menggemaskan seolah sedang bersenang-senang. Membuat lelaki di sebelah saya kegirangan, dan semakin bersemangat menumpahkan segenap perhatian dan upaya terbaiknya untuk saya.

Tak apa.
More, better.
Setidaknya Si dia akan lebih tak mampu melepaskan pandangannya dari saya.

Ya.
Si dia pun ada di tempat yang sama dengan saya malam ini.
Entah sengaja atau tidak, karena saya tak memberitahunya mengenai kencan saya malam ini.

Si dia masih mengenakan atribut yang sama.
Perempuan cantik. Berpakaian seksi.
Si Pacar Lain Nomor Dua.

Saya tahu persis Si dia tahu saya ada di sini.
Terlihat dari salah tingkah yang ditutupi. Kedekatan yang dieksploitasi.
Si dia ingin saya melihat dia dan perempuan itu.

Oh ya. Saya memang melihat mereka.
Saya pun melihat Si dia yang seolah tidak bisa melepaskan tangannya dari tubuh perempuan itu. Saya melihat semuanya.
Tapi tidak, saya tidak cemburu.
Kalau dia bisa melakukan hal seperti itu, kenapa saya tak bisa melakukan hal yang sama?

Layaknya pemeran utama yang tersorot kamera, saya pun berakting.
Dengan lelaki muda di sebelah saya sebagai aktor pendukung.
Dengan Si dia di sana, sebagai penonton.
Penonton yang fanatik.
Karena matanya lekat menatap saya.
Tak peduli kami berada di sisi ruangan yang berbeda.

Saya melirik jam. Sudah larut.
Sudah waktunya menyudahi pertunjukan malam ini.
Saya meraih gelas martini saya di meja. Membalikkan badan, menatap langsung ke matanya. Mengangkat tangan saya yang memegang gelas.

Toast.

Saya tersenyum dan mencecap tetes martini terakhir saya.
Tak memedulikan pandangan bingung lelaki muda di depan saya, yang kemudian mengikuti arah pandangan saya dan melihat Si dia.
Si dia yang berdiri diam.
Tanpa ekspresi.

Saya menyentuh bahu lelaki muda itu. Biar bagaimanapun dia sudah melakukan perannya sebagai aktor pendukung dengan sempurna.
Dia berhak memperoleh imbalan yang setimpal.

“I have to go.”
Dia langsung bergerak, hendak beranjak ikut pulang bersama saya.
Saya menahan bahunya.
“No, you stay. Saya pulang sendiri saja,” saya tersenyum, mengangguk menyakinkan, sebagai jawaban atas tatapan ragunya.
“Thanks ya. I have a good time..”
Saya mencondongkan tubuh, mencium pipinya lembut. Lalu beranjak pergi.

Meninggalkan sang aktor pendukung yang mendadak kehilangan lampu sorot saat sang aktor utama meninggalkan arena.

Meninggalkan sang penonton.
Yang masih berdiri di seberang ruangan.
Menatapnya. Tanpa ekspresi.

[to be continued]

previous part : 11.1. The Other(s)
next part : 11.3. The Other(s)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s