11.1. The Other(s)

Standard

“So, how many women are there, besides me?”

Dia menoleh, menundukkan kepala menatap saya, yang terbaring menelungkup dengan kepala bersandar di bahunya. Tak sehelai benang pun menutupi tubuh kami. Kalah telak dengan selimut berkualitas tinggi yang menutupi kami, yang konon terdiri ribuan jalinan benang.
A thousand thread count.
Well, sepertinya sudah cukup banyak jumlah benang di sana yang dapat digunakan untuk menutupi tubuh kami kan?
Haha.

It was a bed talk time.
Ini waktu kesukaan saya.
Entah, saya selalu bilang bahwa saya tak suka pecinta yang rewel, terlalu banyak bicara dan gemar merengek. Berisik!
Tapi dengannya berbeda.
Mungkin karena dia selalu memeluk saya erat seusai bercinta. Mengacuhkan ponselnya yang berkali-kali bergetar di bedside table. Bersikap seolah saya lah hal yang paling penting di dunianya.

Well, mungkin itu tak sepenuhnya benar.
Tapi saya juga tak sepenuhnya peduli.

“Hm. Pertanyaan yang berat. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“I am just wondering. Nggak boleh?”
Sebuah seringai penuh permainan terbentuk di bibirnya.
Dia menelusuri lekuk punggung saya dengan ujung jarinya seraya pandangannya menerawang sesaat.

Setelah itu dia menatap saya lagi.
“Do you really need me to answer?”

“Terserah. I don’t really care.”

“You’re lying. Kamu tak akan bertanya kalau kamu tak peduli.” tuduhnya. Masih dengan senyum bandel yang sama.

“I don’t lie. I really don’t care.”

“Tapi kamu penasaran?”

“Hanya ingin tahu.” saya mengangkat bahu.

Dia menatap saya. Lalu mengangkat bahu seraya memalingkan pandangan.
“There are three,” sahutnya, jemarinya masih bermain-main di lekuk punggung saya.

Saya tertegun sesaat tanpa sempat saya cegah.

Baru detik berikutnya saya mampu menguasai diri dan berlagak tidak terpengaruh dengan informasi barusan.
Tapi tubuh saya pasti menegang untuk sepersekian detik, karena jemarinya berhenti bergerak.
Sialan. Saya kecolongan.
Dia dapat membaca keterkejutan saya.

“Kenapa? Terlalu banyak untukmu?”
I can hear him smiling.
“Nggak.” Saya menatap acuh, “Lelaki macam kamu, tak mungkin hanya bermain dengan satu perempuan kan?”
“Maksudnya?”

Saya bangkit berdiri, menyeret selimut untuk menutupi tubuh saya. “You’re a catch. And you know it.” Saya menatapnya.
“Lalu, kamu cemburu?”
“Jealous? Are you kidding me?” Saya tertawa.
“Kenapa ketawa?”
“Jealousy is not my thing, baby. You should have known that after having sex with me.” Saya meninggalkannya, beranjak melangkah menuju kamar mandi.
Dia hanya duduk di sana, memperhatikan saya tanpa berkata sepatah kata pun.

“Kamu punya pacar lain ya?”
Saya meletakkan garpu dan pisau di atas piring berisi toast dan omelette. Menatapnya dengan tak percaya sekaligus geli.
“Ini sambungan percakapan pagi tadi?”
“Ya.” dia menatap saya tanpa ekspresi, “So? Are you going to answer?”

“Kenapa kamu berpikir saya punya pacar lain? Apakah saya harus punya pacar lain — mungkin jumlahnya tiga orang, seperti jumlah pacar kamu — barulah wajar bila saya tak cemburu?”
“That would make more sense.” Dia mengangkat bahu.
“OK. Let me surprise you. I don’t.”
“You don’t?”
Saya menggeleng. “Lagipula, kalau pun ada pacar lain, do you really think I am going to tell you about that?” lanjut saya, tersenyum.

Dia menatap saya.
Seksama.
Bibirnya terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu, namun terkatup kembali. Ia lalu kembali sibuk dengan sarapannya.

Aha. Saya tahu dia terusik dengan jawaban saya.

[to be continued]

previous part : 10. Revenge
next part : 11.2. The Other(s)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s