10. Revenge

Standard

Amplop itu tiba di meja, dua minggu kemudian.
Membuka amplop itu, kening saya berkerut.
Di dalamnya terdapat sehelai kartu warna gading dengan emboss inisial yang eksklusif dan personal, serta selembar kertas terlipat.
Saya kenal inisial itu.
Tapi tidak. Tak mungkin.
Saya membuka kartu itu, tertegun sejenak.
Hanya sederet kalimat yang ada di sana.

Would you mind going with me to Bangkok next weekend?

Saya lalu membuka lipatan kertas itu.
Isinya itinerary perjalanan, dari jadwal keberangkatan di Jumat malam,  sampai penerbangan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.
Informasi lengkap mengenai hotel yang akan digunakan. Semuanya bintang lima. Di Bangkok pada Jumat malam, dan Phuket pada malam berikutnya.

Apa ini?

Tak ada keterangan lain dalam amplop itu.
Yang ada hanya inisial tiga huruf itu, yang menggaungkan kembali nama itu di kepala.
Membuat kemarahan yang telah terendap berpusar kembali, menguasai seluruh diri.

Saya ingat, peristiwa malam itu.
Saya ingat, betapa malam itu saya merasa begitu tidak berharga.
Saya ingat sekali, lelaki bajingan itu tidak juga menghubungi saya sejak malam itu.
Sampai hari ini, saat amplop ini sampai ke meja saya.

Kemarahan meledak dalam diam.
Saya meremas amplop dan seluruh isinya dengan murka dan membuangnya ke dalam keranjang sampah.

Larut malam.
SMS masuk ke ponsel.
“Bangkok?”
Saya menatap layar ponsel sejenak, tanpa ekspresi. Jemari bergerak,mengetikkan balasan.
“OK.”

Jumat malam.
“Where are you?”
Message sent.
Delivered.
Tak ada balasan.

“We’re departing in 45 minutes. WHERE ARE YOU?”
Message sent.
Delivered.
Tak ada balasan.

Ponsel itu berdering.
Saya melirik jam. Tepat tigapuluh menit sebelum waktu keberagkatan yang seharusnya.
Saya tersenyum simpul.
Ini saatnya.

“Halo?”
“Kamu dimana?”
“Masih di kantor,”
“Di kantor?!” dia diam sejenak, terdengar jelas berusaha menekan kekagetannya, “Saya tunggu kamu dari tadi di airport. We’re supposed to be leaving for Bangkok. Remember?”
“Ah, iya. I can’t go.”
“Apa maksudmu?”
“I. Can’t. Go. Itu maksud saya,”
Sunyi sejenak.
Saya tahu dia sedang berusaha menekan kemarahannya yang luar biasa.
“So you are not going.”
“No.”
Dia menutup telepon.

SMS itu masuk ke ponselnya, satu menit kemudian.
“Setidaknya telepon kamu masih saya angkat.”
Dia menatap layar ponsel dengan nanar untuk beberapa detik, sebelum menutupnya dengan berang.

Larut, malam yang sama.
Bel pintu apartemen berdering.
Saya memalingkan pandangan dari televisi kabel yang tengah ditonton. Mengerutkan kening. Saya tak menunggu tamu siapapun malam ini.
Saya bangkit dan menyeret langkah ke pintu, lalu mengintip ke luar.
Shit.
He’s here?!

Saya membuka pintu.
Lelaki di hadapan saya menatap saya dengan berang.
“Do you have any idea berapa kerugian yang harus saya tanggung karena pembatalan kamu?” ujarnya menggeram.
“And do you have any idea seberapa malu dan kecewa yang harus saya tanggung saat kamu meninggalkan saya tanpa kabar di restoran malam itu?”
Dia tertegun sejenak.
“Jadi, ini balas dendam kamu?”
“I don’t know. Does it feel like it?”

Dia menatap saya.
“I had a family emergency that day.”
“And you should have told me. Tapi tidak. Kamu bahkan tidak mengangkat saat saya telepon.”
Dia diam.
“I can understand family emergency. I am totally fine with it. Tapi saya tak bisa menerima kamu membiarkan saya tanpa kabar.”

Sunyi sejenak.
“Maaf.” dia berkata akhirnya.
Saya menatapnya.
“Saya juga,”

Dia memandang saya sejenak, lalu mengangguk dan membalikkan badannya untuk mulai beranjak menuju lift.
“Hey, do you want me to pay you back?”
Dia membalikkan badannya. “Untuk apa?”
“Untuk tiket pesawat yang hangus karena ulah saya?”
“Sudahlah,” dia mengibaskan tangannya, “Lupakan saja. We were going to fly private, not commercial.”
“Private .. as in private jets?” jelas sekali kegagapan saya.
“Yeah, of course. Private jets, private restort in Phuket .. kamu mengerti kan, kenapa saya memilih untuk batal berangkat daripada harus ke sana sendirian?”
Saya mengangguk-angguk. Berlagak tenang. Menyembunyikan rasa takjub dan sedikit penyesalan yang mulai timbul.

“It was supposed to be a private getaway, you know,” Dia mulai tersenyum.
“Really?”
“Yes. Saya memang ada meeting hari Sabtu pagi di Bangkok, but it will only take 2 hours. The rest is totally a getaway.”
Dia melangkah mendekati saya.

“We could have been in Bangkok by now,
kalau saja tadi tidak ada seseorang yang bersikap keras kepala,”

“We could have been in Bangkok by now,
kalau saja dua minggu yang lalu tidak ada seseorang yang lupa menelepon untuk membatalkan janji yang dibuatnya,”

Dia tersenyum. Lagi.
Langkahnya terhenti tepat di depan saya.

“Kamu itu menyebalkan sekali, ya.” komentarnya, menatap saya.
“Oh ya? But you fall in love with me anyway?” saya menyeringai jail.
“Unfortunately, yes.”
Dia menundukkan kepalanya lalu mencium bibir saya.

There.
We kissed.

Then we made up.



previous part : 09. Bitter Sweet
next part : 11.1. The Other(s)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s