09. Bitter Sweet

Standard

“You think?”
Dia terdiam.
Mungkin menyesali kata-katanya barusan.
Atau tengah berpikir ulang dan sebentar lagi mengajukan ralat.

“You think?” kali ini saya tidak dapat menahan senyum.
“Harus ya, ditanya berulang-ulang begitu?”
Saya tertawa.
“Pokoknya begitulah. Akhirnya saya bilang juga.”
“Ngomong begitu aja kok susah banget.”
“Memang menurutmu gampang?”
“Gampang. I love you. See, that was easy.”
“I never said something if I don’t mean it.”
“So you say I didn’t mean what I said?”
“No,” dia diam sejenak,
“I just mean usually when I said something, I already know what to do with it. Habis ini harus bagaimana. Apa yang harus dilakukan berikutnya. But with you .. it’s different. We’re not actually capable of doing anything with it. Ya kan?”
“Memangnya yang minta semua itu siapa?”
Dia tertegun.

Stop thinking. Stop analyzing. Ini bukan perusahaan yang baru kamu akuisisi, yang membutuhkan strategi pembenahan atau perumusan langkah ke depan yang matang. Ini kita,”

Dia menghela nafas.
Kita.
“I like the sound of that.”

I think I can even hear him smiling.

Dia menelepon tadi pagi, membangunkan dari tidur dengan sapaan lembut.
Membuat hari langsung terasa lebih cerah dan menyenangkan.
Membuat janji untuk mengakhiri hari ini bersama-sama.
Sounds like a really nice plan.

Saya menunggunya di restoran mahal di lantai teratas gedung pencakar langit itu.
Berdandan cantik, dari rambut sampai ke ujung kaki.
Ditambah gaun bermotif cerah Diane von Furstenberg yang saya kenakan.
Cukup menarik perhatian beberapa lelaki saat saya melangkah menyeberangi ruangan.
Menuju meja di sudut ini.

Entah kenapa, saya mau serepot hari ini.
Not that it will matter, I know, karena saya yakin dia pun lebih bersemangat melihat saya tanpa tertutup sehelai benang pun, sebelum biasanya menciumi saya tanpa henti.

Tapi malam ini kencan pertama.
Setidaknya – rasanya seperti itu.
Karena malam ini saya merasakan semua sensasi menyebalkan namun nikmat itu.
Deg-degan.
Dag-dig-dug. Dag-dig-dug.

Berbunga-bunga.
Mata berbinar.
Bibir yang seolah ingin selalu tersenyum.
Rasanya seperti kasmaran remaja belasan tahun yang baru pacaran.
So cheesy, but I just cannot stop myself.
Sial.
Benar-benar sial!
Sepertinya saya tak pernah se-kampungan ini.

Saya melirik beberapa lelaki di deretan meja seberang ruangan yang memperhatikan saya sedari tadi.
Bisa jadi mereka akan menatap iri pada dia yang akan duduk di kursi di hadapan saya nanti.
Menganggapnya bajingan beruntung.
Atau bajingan superkaya, dan sayalah pelacur kelas atas yang berhasil digandengnya.
Haha.

Saya melirik jam.
He’s already 30 minutes late.
Saya tercenung menatap layar ponsel saya. Entah kenapa terasa ada yang mengganjal.
Seperti akan terjadi sesuatu yang salah.
Saya menekan nomor ponselnya. Beberapa kali dering, lalu mailbox.
Shit! What’s happening?
Mencoba menelepon sekali lagi. Masih tidak diangkat.
Ganjalan itu terasa semakin melesak dari dalam.
Sesak.
Rasanya su lit ber na fas.

“Where are you? I am already here.”
Message sent.
Delivered.

Namun ponselnya masih diam.
Saya mereguk red wine dari gelas di atas meja. Berusaha menekan kegelisahan.
Dan firasat buruk yang semakin menguasai dan menghancurkan ketenangan.
Limabelas menit berlalu.
Dia belum datang juga.

Mungkin berlebihan.
Tapi sepertinya lelaki-lelaki di seberang ruangan mulai memperhatikannya dengan lebih intens.
Mungkin menatap iba, senyum simpul penuh pemahaman di wajah.
Ini pasti lacur yang ditinggal si bajingan.
Dan mata mereka pun mulai menjelajah mempelajari mangsa, seperti burung bangkai melihat rusa yang sekarat terluka.

Saya melirik jam lagi.
Sudah satu jam berlalu dari waktu janji yang seharusnya.
Dan saya masih duduk di sini, dengan gelas anggur yang nyaris kosong.
Sendirian.
.
.
.

Saya menghela nafas, berusaha untuk meredakan kesesakan yang semakin menghimpit.
Saya harus bangkit sekarang dan beranjak pergi dari sini.
Demi menyelamatkan harga diri yang masih tersisa.

Larus malam.
SMS itu masuk. Kosong.
Dia tahu.
Dia pasti terlalu marah untuk bicara.

previous part : 08. Confession
next part : 10. Revenge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s