08. Confession

Standard


“Lalu kenapa kalau kamu kehilangan saya?”
Dia diam, tidak menjawab,
“Memang saya ada artinya buat kamu?”
Dia tetap diam.
Argh.
Rasanya saya ingin berteriak. Ingin memaksanya bicara. Mengucapkan apapun yang bisa melegakan saya dari kesesakan yang menghimpit sejak terakhir kali kami bicara.
Kesesakan ini terlalu lekat.
It feels too damn overwhelming!

“Are you going to say anything?”
Dia menatap saya.
“Kamu tahu saya tak bisa menjawab semua pertanyaan itu.”

Mata saya menyala marah.
Saya berbalik. Lalu melangkah pergi meninggalkanya.
Tak sedikitpun dia menghentikan saya. Masih tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Saya benci, saya yang seperti ini.
Saya tahu, saya sedang melalui tahap itu. Tahap pencarian alasan. Pembenaran atas rasa yang diendapkan.
Pengharapan bahwa ada secuil diri saya,
Yang memiliki arti bagi manusia lain.
Bagi dia.
Dia.

Sialan!
Siapa saya, merasa mampu menjadi pemain kawakan?!
Seorang pemain kawakan tak kan melibatkan hati. Seorang pemain kawakan tak kan jatuh cinta terhadap mainannya. Apalagi mencengkeramnya erat, karena takut kehilangan.
Tidak.
Baginya akan selalu ada mainan baru.
Tangan kanannya akan selalu menyambut mainan barunya dengan riang.
Sementara tangan kiri menghempaskan mainan lama yang kini telah dianggapnya sampah.
Ya, sampah.

Dan sebuah mainan tak akan pernah bisa menolak dibuang.

Saya tertawa sinis.
Saya, pemain kawakan?
Ya, pemain kawakan, yang masih cukup bodoh mau menjadi mainan bagi pemain kawakan lainnya.

Bodoh.
Ya, itulah saya!

Ponsel itu berdering.
Dia.
Saya menghela nafas. Lelah.
“Halo?”
“Apakah jawaban saya sedemikian pentingnya untukmu?”
Saya diam sejenak. “Ya.”
“Kenapa?”
Saya menghela nafas. Lagi.
“Would you stop asking and start answering?”
Dia tertawa

Oh right.
Dia tertawa.
Semua ini hanya lelucon besar untuknya!

“Apakah jawaban saya akan mengubah keadaan?”
“Tergantung. You tell me.”
“You know, it won’t.”
“Karena itu kamu menolak menjawab?”
Dia diam sejenak.
“Saying it will only make it more real. And I cannot deal with anything real between us.”
“Oh ya? Karena sepasang selingkuhan yang jatuh cinta hanya ada di dunia fantasi? Imajiner? Terlalu nikmat untuk menjadi kenyataan?”
“Don’t be cynical.”

Saya terdiam. Mungkin setengah menyesal, tapi tidak.
Saya sudah terlalu lelah dengan semua ini.
“It is as hard for me as it is for you.”
“Dan karena itu kamu memutuskan untuk tidak menjawab, karena bebannya terlalu berat untuk kamu tanggung? Begitu?”
“Stop. Being. Cynical.”

“Sudahlah,” saya menghela nafas, “Saya lelah merasa. Saya lelah mereka. I am going to hang up now.”
Saya sudah nyaris menekan tombol merah yang ada di ponsel saya, ketika tiba-tiba dia membuka mulutnya lagi.
“Tunggu.”
“Apa?”
“I don’t know what’s happening,” kata dia, “But I don’t want you to hang up now.
Saya tertegun sejenak.
“Hang up means it’s over. Kamu pasti akan pergi lagi. Menghilang dari saya. Dan saya …” suaranya mengambang lalu menghilang.

Sunyi.

“Damn it. I think I am in love with you.”

previous part : 07. Candu
next part : 09. Bitter Sweet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s