The Undomestic Goddess

Standard


Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Sophie Kinsella

Sebagai BUKAN penggemar buku-bukunya Sophie Kinsella (menurut saya Shopaholic Series cenderung mendiskreditkan perempuan, dimana tokoh utamanya adalah perempuan manja, reckless, and lack of common credibility (despite nature sifatnya yang pada dasarnya baik) yang biasanya nasibnya terselamatkan karena keberuntungan berupa kebetulan-kebetulan yang memihak padanya) saya cukup terkesan dengan dua buku dia terakhir yang saya baca – Remember Me dan The Undomestic Goddess.

secara Gina sudah mereview buku Remember Me (read: http://gintsya.multiply.com/reviews/item/123), saya akan review buku The Undomestic Goddess.

Ceritanya tentang Samantha Sweeting, pengacara ambisius, smart dan hebat dari lawfirm Carter-Spink – salah satu yang terbaik di London. Saking ambisius, smart dan hebatnya, dia benar-benar tipe perempuan yang tingkat stresnya tinggi, constantly on her nerves, seluruh hidupnya terdedikasikan untuk pekerjaan, nggak bisa lepas dari ponsel, blackberry, dan kehidupannya didasarkan ukuran 6 menit (karena itulah basis charge Carter-Spink terhadap semua clientnya).
But one day, it all changed.
Sebuah skandal kerugian client sebesar 50 juta dollar menimpa Samantha, menyebabkan dia panik lalu kabur ketakutan, lalu sembarangan masuk ke kereta yang berujung di sebuah kota kecil pinggiran London. Saking ribet dan bingungnya, dia datang ke sebuah rumah (home of the Eddie and Trish Geigers) untuk minta air dan aspirin – lalu disangka pembantu rumah tangga kiriman agensi yang mereka tunggu-tunggu.
Samantha sempat mau jujur bahwa dia bukan pembantu, tapi dia juga nggak tahu harus kemana (nggak mungkin balik ke London, skandalnya sudah ketahuan semua orang dan dia takut menghadapi semua itu), so she decided to play along. Keputusan agak bodoh, secara dia nggak bisa masak, nggak tahu cara mencuci dan setrika, dan nggak pernah membersihkan rumah.
But hell, she’s basically smart.
She worked hard to cope with all her limitations and got in touch with slow-paced (but full of people’s warmth) suburban lives – which she began to enjoy.

Buku ini agak membosankan pada awalnya, tapi lama-lama cukup seru. Tetap ada “kebodohan yang terselamatkan oleh keberuntungan” khas Sophie Kinsella, tapi nggak terlalu banyak sampai rasanya menyebalkan.
Yang pasti saya penasaran kalau pemandangan kota kecil itu divisualisasikan .. beuh, pasti keren banget ..🙂

anyway, ada satu quote yang saya suka banget dari buku ini :
“Don’t beat yourself up for not knowing all the answers. You don’t always have to know who you are. You don’t have to have the big picture, or know where you’re heading. Sometimes it’s enough just to know what you’re going to do next.”

buku ini lumayan kok, buat light-reading.
worth to read, when you’re bored reading all those inspirational business books (that i thought, i should be reading more .. hehehe) or contemplative books like Paulo Coelho (baca Coelho itu nggak pernah bisa cepet deh .. kelamaan bengong merenungnya) ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s