confession of a drama queen

Standard

suatu hari di masa lalu,
seorang teman pernah berkomentar bahwa
i was being a drama queen of my own life.

secara saya nggak merasa bahwa saya sering bereaksi berlebihan dalam menyikapi sesuatu kejadian apapun dalam hidup saya (kadang-kadang mungkin ya, tapi tidak selalu)
atau komplain dengan manja mengenai kesulitan kehidupan saya kepada semua orang, seolah sayalah manusia tersusah di dunia,
saya pun merasa komentar itu nggak relevan.
kata siapa saya ratu drama?
bukan kok!

but then again,
makin kesini, saya makin menyadari sesuatu.
perhaps i am actually a drama queen.
in some kind of way.

pencerahan ini saya peroleh, ketika saya secara sadar berusaha memancing pertengkaran dengan seorang lelaki yang waktu itu dekat dengan saya.
i was trying to create a drama.
dan saya berhasil.
kita akhirnya berantem, dan pertengkaran itu sukses membuat saya melupakan masalah-masalah saya yang lain untuk sementara.
saya tahu persis sebabnya.
entah kenapa buat saya sektor percintaan entah kenapa selalu lebih dominan dibandingkan sektor-sektor kehidupan yang lain. mungkin karena saya perempuan ya.
pokoknya drama yang terjadi di sektor percintaan, pasti akan berhasil menutupi drama-drama di sektor kehidupan saya yang lain.

so i was being a drama queen by trying to create a drama, semata-mata karena saya butuh pengalihan perhatian dari masalah-masalah lain yang lebih besar yang sedang terjadi dalam hidup saya.

bagi setiap orang, biasanya ada kategori permasalahan yang bisa diceritakan ke semua orang. kemana-mana curhat. memborbardir teman pengguna esia dengan curhatan berjam-jam.
bagi saya, gonjang-ganjing percintaan adalah salah satunya.
entah kenapa saya bisa mudah sekali curhat mengenai masalah percintaan sama orang lain, sementara saya sering kehabisan kata kalau harus cerita tentang masalah saya yang lain.

i’ve learned that when people are not telling you their problems, it doesn’t mean they’re not having ANY problems.
they do.
they just don’t talk or tell you about it.

biasanya mereka malah membahas secara berlebihan masalah lain yang lebih remeh. yang nggak penting. shortly, they’re being a drama queen.
mungkin salah satu alasannya adalah supaya mereka memiliki saluran untuk menyalurkan segala emosi negatif yang terkurung di dalam,
juga untuk mengalihkan perhatian mereka dari masalah yang sebenarnya.

mungkin ini yang terjadi saat si ratu drama menjelma menjadi seorang ratu drama.
pengalihan perhatian sementara. denial. penolakan untuk menghadapi masalah yang menghadang di depan mata.
creating a drama surely will not solve any problems,
but it surely can give us more time before having to deal with the REAL problems.

i did that.
but it doesn’t mean i will voluntarily let you judge that i am a drama queen.

karena penilaian sejenis itu rasanya sama saja seperti dituding dan ditelanjangi habis-habisan, seolah membuka kedok penyangkalan kami,
padahal kami, sang ratu drama, sudah berusaha setengah mati menutupi apa yang sebenarnya kami rasakan.

sudahlah ..
biarkan kami mendramatisir keadaan sesekali.
it makes us feel better, in some strange kind of way.
tapi kalau kami terus-terusan begini, mohon jangan lupa diingatkan 
karena memang, masalah nggak akan pernah selesai bila tidak dihadapi
ada saatnya topeng ratu drama harus dibuka,
dan mulai menghadapi kenyataan.

so,
i am a drama queen. this is my confession.

p.s.
for she, who might be familiar with above quote, please do not take this post personally. i no longer hold back any grudges against you right now.
tapi terus terang komentar itu bikin gue mikir lebih jauh mengenai kebenarannya.
thanks, dear🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s