Kenalkan, namanya Asep

Standard

kenalkan, namanya Asep (mungkin. saya tidak menanyakan namanya semalam). usia sekitar 7 tahun, bila dinilai dari fisiknya. kepala gundul tertutup topi koko, badan kurus kecil, mengenakan celana pendek dan kaos kuning.
biasa berkeliling di sekitar pasar jababeka cikarang, dari jam 5 sampai jam 9, berbekal wadah dari botol air mineral yang dibelah dua, mengumpulkan receh yang rela diberikan oleh para pengunjung pasar.

kemarin saya bertemu dia, saat saya sedang makan malam di warung pecel ayam di pinggiran pasar. sudah terlalu terbiasa, saya hanya melambaikan tangan saat dia menghampiri. saya termasuk kalangan yang percaya bahwa bersedekah terhadap pengemis anak kecil hanya akan tambah merusak, dibanding membantu.
tapi dia konsisten. dan sekilas saya mendengar bahwa dia minta uang untuk beli nasi. akhirnya saya menoleh.

saya : “kamu belum makan?”
dia menggeleng.
saya : “mau aku beliin ini aja nggak?” (menunjuk warung pecel ayam yang saya tempati)
dia mengangguk, matanya mulai bersinar.
saya : “ya udah. kamu mau lele atau ayam?”
dia : “nggak tahu..” dia berkata pelan, matanya kembali meragu.
saya : “ayam aja ya?”
matanya kembali bersinar, dan dia mengangguk semangat.
saya : “mau makan di sini atau dibungkus?”
dia : “dibungkus ..” tapi matanya menatap saya dengan takut dan ragu. takut saya marah dan nggak jadi, barangkali.

saya memesankan satu porsi pecel ayam dan nasi untuk dibungkus, seraya mengajak anak ini mengobrol. banyak orang yang bilang bahwa pengemis-pengemis kecil ini biasanya malah diajarkan orangtuanya untuk mengemis.

saya : “udah sekolah belum?”
dia : “udah,”
saya : “tadi pulang sekolah jam berapa?”
dia : “sekarang kan sekolahnya masuk pagi ..”
saya : “jadi pulang sekolah jam berapa?”
dia : “jam 12,”
saya : “kamu nggak bikin pe-er?”
dia : “nggak ada pe-er,”
saya : “masa sih? nggak pernah dikasih pe-er sama gurunya?”
dia : “biasanya ngerjainnya sore ..”
saya : “biasanya memang kamu mulai keliling-keliling jam berapa?”
dia : “jam lima,”
saya : “sampai jam ..?”
dia : “jam sembilan,”
saya : “ada yang ngajarin nggak, keliling-keliling begini?”
dia : “nggak ada ..”
saya : “terus tahunya darimana?”
dia : “kan banyak temen-temen. lagian ada yang ngajak.”
saya : “siapa yang ngajak?”
dia : “ibu. tapi ibu di rumah sakit internasional.”
saya : “keliling juga?” (saya menghindari menggunakan kata mengemis)
dia : “iya.”
saya : “oh, nanti kalau udah jam 9, kamu ketemu ibu di rumah sakit?”
dia : “iya..”
saya : “biasanya dapet semalem dapet berapa?”
dia : “kalo rame bisa 20 ribu..” (wah, serius deh. banyak juga ya?)
saya : “biasanya buat apa?”
dia : “buat beli komplot.”
saya : “komplot itu apa?”
dia : “bahan bangunan..”

saat itu, nasi dan pecel ayam miliknya selesai. dia memegang plastik itu sambil memandang saya.

dia : “makasih ya kak ..”
saya : “iya .. hati-hati ya ..”

dia pergi dari warung pecel ayam itu, setengah berlari senang.

ah.
mungkin bagi dia, mengemis sudah seperti part time job. sekolah dulu. buat pe-er. kemudian kelilling-keliling sepanjang pasar di pinggiran jalan raya jababeka cikarang, mencari penghasilan tambahan.
sekecil itu, tapi dia sudah mengerti.
bahwa dia harus bekerja (keliling-keliling jalan kaki) untuk dapat uang.
bahwa kerja itu capek. jadi cari uang itu nggak gampang.

terus terang,
hidup sekarang memang susah.
semua orang, bahkan temen-temen gue pun, bilang bahwa kenaikan BBM baru-baru ini benar-benar berasa dampaknya. transpor jadi mahal, baik yang naik mobil pribadi maupun kendaraan umum. itu yang paling terasa.
beda dengan kenaikan-kenaikan harga sebelumnya, yang mungkin bagi kita-kita nggak terlalu kerasa, meski bagi mereka yang nggak terlalu beruntung seperti kita mungkin kenaikan-kenaikan harga sebelumnya sudah terasa begitu mencekik.

temen gue yang bawa BMW kemana-mana dan biasa ngisi pake Pertamax Plus, kemarin dia terpaksa mengambil resiko untuk mencoba mencampur bahan bakarnya dengan Premium, dengan doa yang kenceng mesinnya nggak akan kenapa-kenapa.
kita-kita yang di kantor, merasa lebih baik menunggu lama di kantor usai jam kantor supaya bisa nebeng temen kantor yang bawa mobil .. daripada pulang tenggo tapi harus naik kendaraan umum yang total tarifnya bisa dua kali lipat daripada kalau setengah jalannya ditempuh dengan menebeng.
dan si Asep ini, entah sejak kapan dia mengemis. tapi bisa jadi dulu dua puluh ribu dia bisa gunakan untuk makan dan beli ini itu, sekarang mungkin cuma buat makan keluarganya selama dua hari.

hidup sekarang susah buat semua orang.
dan masing-masing orang berusaha keras mengakali pengeluarannya sedemikian rupa, supaya penghasilannya cukup menghidupi dirinya dan keluarganya.

hm.
entah nanti kalau Asep besar, dia akan jadi apa.
semoga dengan begini, dia nggak akan lantas berpikir bahwa dengan minta-minta aja dia udah dapet uang, sehingga dia jadi malas.
semoga pengalaman dia harus bekerja saat dia masih sekecil ini, dia akan menjadi seseorang yang tetap pekerja keras, yang meskipun perekonomiannya terbatas, tapi dia nggak akan pernah menyerah.
karena mereka yang cepat menyerah, nggak akan bisa bertahan.
karena satu-satunya yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri (dan Tuhan, tentunya), bukan manusia lain.

semoga saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s