080526 The Jakarta Post Democracy Photo Exhibition

Standard

Setelah terjebak di kampus sampai jam 8 dan nyaris nggak jadi kesini, akhirnya berangkat juga. menculik pry dari kantornya buat nemenin kesana, sesampainya di sana .. agak bingung. kok agak sepi ya ..
ternyata hari pertama ini INVITATION ONLY!
halaaahh pantes gue cuma nemu anak-anak JP dan wartawan dari media lain. tapi biarin aja. i was invited, kok, by the photographer himself. hahaha.

The Jakarta Post adalah salah satu media yang cukup concern sama kualitas foto milik mereka. aspek jurnalisme tentunya harus diutamakan, tapi tidak berarti aspek estetika dan keunggulan teknik fotografi dikesampingkan.
Exhibition ini berisi foto-foto yang diambil sejak tahun 1998 – 2008, dari Tragedi Trisakti, penandatanganan perjanjian IMF antara Soeharto dan Candemssus (yang legendaris itu), sampai ke Pilkada baru-baru ini di Jakarta maupun di Papua. Semuanya karya fotografer The Jakarta Post, baik yang masih ada sekarang maupun yang sudah tidak bergabung bersama mereka.
Pameran ditata dengan apik, dengan pencahayaan yang easy on the eyes .. membuat gue merasa seolah dalam perjalanan yang menyenangkan, backtracking dari tahun 1998 ke tahun 2008.

Gue juga ketemu sama kelima punggawa fotografi The Jakarta Post saat ini :
1. P.J. Leo
2. Bertho Wedhatama
3. Arief Suhardiman
4. Ricky Yudhistira
5. J. Adiguna
those five people are the ones who are responsible for all great photos in The Jakarta Post right now🙂

Bang Leo juga sempet cerita tentang kisah di balik foto Elang (mahasiswa Trisakti) yang tertembak, dimana foto itu dia ambil di RS Sumber Waras, dengan menyamar sebagai keluarga. He’s the only media photographer inside the hospital, sehingga foto ini menjadi foto langka yang dicari media lain di dalam maupun luar negeri. Sayangnya saat itu foto ini tidak dimuat di edisi JP saat itu, karena pertimbangan saat itu Soeharto belum lengser.

J. Adiguna juga cerita soal foto yang diambil Mas Arief di Aceh, menjelang pemilu di Aceh. Foto yang menggambarkan inong-inong membawa senjata ini sekarang menjadi sangat legendaris di Aceh, karena oleh masyarakat Aceh (gue lupa, GAM atau bukan) foto ini dicetak banyak dan dijual Rp. 3000,- / lembar untuk mendanai perjuangan mereka.

Ada juga foto Tommy Soeharto saat dibebaskan dari LP Cipinang. Hahahaha. Kalau ini gue tahu persis ceritanya. J. Adiguna stayed at my house the night before, membuat gue harus bangun jam 4 pagi untuk bangunin dia .. dan dia berangkat dari rumah gue jam 5 untuk menangkap momen pembebasan Tommy Soeharto (karena saat itu belum dipastikan jam berapa dia akan dibebaskan). He waited until around noon, barulah Tommy keluar dan foto ini bisa diambil.

ah. memang menyenangkan melihat sebuah pameran foto, didampingi oleh para fotografernya. semua foto memiliki cerita. dan cerita-cerita di balik foto itu lah yang membuat foto itu lebih berbicara, lebih memiliki arti yang luar biasa.

Exhibition masih diselenggarakan sampai Sabtu, 31 Mei 2008 di The Jakarta Post Building 4th Floor, Jl. Palmerah Barat no 142-143 (deket banget sama kompleks Kompas Gramedia)

i also attached few pictures displayed on the exhibition, to add your curiosity😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s