romantisme telah mati

Standard

ternyata, romantisme telah mati buat saya.
semoga ini mati suri, karena saya senang dan saya menikmati menjadi seorang penggila romantisme.
tapi entahlah, beberapa stimulan romantisme dalam seminggu terakhir seolah tidak ampuh lagi buat saya.

stimulan #1
film romantis, macam PS : I Love You.
saya mencoba menonton film ini akhir minggu kemarin. and i stopped watching on the first 10 minutes. entahlah, rasanya tidak bisa menyambungkan benak saya terhadap film yang saya tonton. semua teman-teman saya menggembar-gemborkan seberapa romantisnya film ini, dan mungkin film ini terasa indah bagi mereka yang sedang jatuh cinta atau mabuk romantisme. tapi kemarin saya tidak. karena itu dvd player saya matikan, dan saya belum menontonnya lagi sampai saat ini.

stimulan#2
curhatan sahabat yang sedang jatuh cinta
meski saya termasuk orang yang bawel luar biasa, saya merupakan pendengar yang cukup baik. tapi yaaaa .. saya memang lebih berfungsi dengan baik (sebagai pendengar curhatan) bila sang pelaku curhat memiliki masalah yang harus diselesaikan, daripada sekedar berbagi kesenangan dan kebahagiaan. dan saya bukan tipe orang yang sering bertanya-tanya, seperti saya bertanya satu, mereka menjawab, saya bertanya lagi, mereka menjawab. argh.
saya paling sebal metode curhat macam ini. dan sahabat-sahabat saya sudah tahu itu. biasanya mereka langsung bercerita sesuai dengan alur yang mereka mau, dan saya mendengarkan, dan kadang mengutarakan pendapat saya di kalimat-kalimat yang menurut saya “mengganjal”.
anyway, seorang sahabat menceritakan dirinya yang sedang jatuh cinta pada seorang perempuan. betapa perempuan ini seolah jawaban atas doanya terhadap Yang Di Atas. betapa perempuan ini bisa membuatnya tidak lagi peduli terhadap hal-hal kecil yang sebelumnya dia rasa mengganggu.
karena ya, dia sedang jatuh cinta.
dan saya?
saya speechless. saya tidak tahu harus berkomentar apa. saya tidak tahu harus bertanya apa. saya tidak tahu harus melontarkan pujian apa. semua komentar saya terasa datar, terasa klise .. karena saya memang tidak tahu harus berkata apa!

jadi kenapa romantisme saya mati suri begini?
entahlah.
mungkin karena akhir-akhir ini saya sedang dihadapkan pada realitas dan kenyataan bahwa hubungan percintaan tidak melulu yang indah-indah.
tidak melulu yang ideal.
tidak melulu bicara mengenai perasaan.
dan mereka yang terlibat hubungan percintaan pun tidak melulu lelaki / perempuan yang tengah dimabuk asmara. tidak selalu perasaan yang mendorong mereka untuk memulai hubungan tersebut.

bahkan hubungan yang dilandaskan terhadap rasa telah menjadi sebuah pikiran yang terlalu idealis, menurut saya. terlalu bermimpi.
dan tidak semua orang beruntung bisa menjalani mimpi itu.

bisa jadi romantisme saya sedang mati suri.
bisa jadi saya telah terlalu lama berkubang dalam dunia penuh realita yang tidak seindah pikiran-pikiran romantis ala pujangga.
bisa jadi saya hanya berpikir realistis.

yang pasti, realis satu ini (maksudnya saya) sempat terjebak dalam stimulan yang tidak disangka-sangka akhir minggu kemarin. melalui sebuah film komedi romantis yang saya sangka komedi slapstick (karena itu saya bersedia menontonnya) bernama What Happens in Vegas.
intinya :
(quoted freely from Cameron Diaz’s line in that movie)
sometimes i try so hard to please someone, until i am losing myself.
it is when i trying NOT to please you, i am back being myself.

and THAT’S what i call an eye-opener!

ah sudahlah. saya tidak akan berkomentar, apalagi mendikte. saya akan membiarkan siapapun berfantasi dan berimajinasi bebas mengenai quote dari film di atas.
romantisme saya sedang mati suri, ingat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s