for money

Standard

i have never enjoyed doing something for money.

contohnya,
sejak pertama kali bekerja, saya tidak pernah bekerja karena uang yang akan saya dapatkan.
duh, percaya deh, di kantor ini, kalau inget gajinya .. bikin sakit hati! (and i often say this. hehehe). this goes on for years, sampai akhirnya kondisi berubah dua bulan yang lalu. meskipun sekarang kondisinya sudah (sedikit) membaik, tapi tetap saja saya tidak pernah merasa melakukan pekerjaan saya karena membutuhkan uangnya.
saya melakukan ini karena saya masih ingin melakukannya.
karena saya belum memiliki pilihan lain.
karena saya masih merasa setengah berhutang budi atas beasiswa kuliah saya yang belum saya selesaikan juga sampai sekarang.
ah banyak sebab yang lain.
yang pasti bukan karena gajinya yang jumlahnya “membahagiakan” saya dan orang-orang di sekitar saya.
bukan, bukan itu.
kalau pun saya mulai merasa tidak cukup, orang tua saya selalu mengingatkan, bahwa yang penting di sini saya memperoleh kesempatan, yang belum tentu diperoleh di tempat lain.
begitulah.
jadi ya, saya tidak pernah merasa melakukan pekerjaan ini karena uangnya.

anyway, i have never getting myself into something for the money.
until now.

beberapa saat terakhir ini saya harus mengubah paradigma saya.
beberapa situasi memaksa saya untuk menjadi lebih materialistis. lebih mengukur berapa return yang bisa saya dapatkan bila saya melakukan ini, atau melakukan itu.
nggak ada lagi yang namanya “kerja sosial”. nggak ada lagi yang namanya membela idealisme. yang penting apa timbal baliknya buat saya.

aduh, rasanya tidak menyenangkan!

tapi mungkin ini yang dialami oleh sebagian besar dari manusia jakarta.
dengan biaya hidup yang makin mahal, tingkat stress yang makin tinggi di kantor maupun di perjalanan .. rasanya tidak ada alasan lain bagi mereka untuk bertahan di pekerjaan mereka sekarang, selain :
mereka membutuhkan uangnya.

tapi mungkin motivasi ini yang membuat manusia menjadi lebih tekun. lebih fokus. lebih konsisten untuk tetap bertahan di sesuatu hal, bukannya berlompatan kesana-kemari menuruti sebuah idealisme cita-cita dan gairah hati.

apa mungkin,
perubahan orientasi yang saya alami, merupakan suatu proses yang tak terelakkan seiring pendewasaan?
karena realistis saja lah, nggak mungkin juga kan, seorang manusia dewasa yang akan memasuki fase berikutnya seperti berkeluarga, memberi makan keluarganya pake mimpi dan cinta? makan tuh mimpi! makan tuh cinta!
sepertinya mau tidak mau seiring waktu, semua orang memang harus semakin “sadar penghasilan”. karena akan semakin banyak tuntutan yang harus dipenuhi, yang semakin mahal harganya.

ah.
memang akan ada saatnya seorang manusia harus mau melepas mimpi dan idealismenya, dan kembali ke dunia nyata.
oh well, beruntunglah mereka yang sempat mewujudkan mimpinya dan mungkin memperoleh penghasilan yang cukup dari itu, before the real world catches up with her.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s