07. Candu

Standard


Siapa sangka kata dapat menjadi sebuah candu?
Sekarang saya mengerti obsesi mereka yang biasanya saya benci:
karena terlalu banyak bicara,
terlalu mudah mengumbar kata,
terlalu pandai mengartikulasikan
pemikiran dalam sederet kata dan kalimat penuh arti..

saya semula adalah pembenci kata,
pembenci bicara.
bicara terlalu banyak hanya akan membuat diri saya rentan.
rapuh.
karena dari sana mereka yang mendengar
saya akan mampu menghakimi saya.
menilai karakter saya.
mengarang cerita hidup saya.
merapal obsesi terdalam saya.
dan tidak, saya tak mau itu terjadi.


saya tak akan pernah memberi kesempatan
mereka untuk menempatkan saya di kursi terdakwa, dalam sebuah pengadilan moral berdasarkan penilaian subyektif berkedok norma.
oke, mungkin saya memang pelacur.
but I already know that, without having anyone to spit it to my face.


tapi sekarang?
deretan kata sederhana di layar ponsel mampu membuat saya tersenyum
pertanyaan singkat mengandung perhatian mampu membuat kupu-kupu di perut saya beterbangan ke sana ke mari, tanpa kendali
apalagi mendengar kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari bibir itu,
bibir yang semula hanya menarik bila sedang mencium
ataupun menjelajahi tubuh saya,
rasanya luar biasa


saya tak bisa melalui sehari tanpa semua itu.
sialan.
saya sekarang pecandu kata.
semua karena dia.


dia adalah suara pertama yang saya dengar di pagi hari
lewat teleponnya yang selalu membangunkan saya
dia jugalah suara terakhir yang saya dengar di akhir hari,
meski seringkali saya jatuh tertidur saat dia sedang menelepon saya 

suaranya ada di mana-mana,
memenuhi sudut benak dan pikiran saya.
hah.
pantas saja saya jadi pencandu!


semua ini harus dihentikan.
kalau tidak, saya bisa mati kalau suatu hari nanti dia pergi
dan saya belum mau mati.


…..
…….
……..
………..
……………..

argh.
rasanya terlalu sunyi!
saya nyalakan kembali ponsel setelah lima hari saya biarkan mati.
lima hari saya gunakan nomor lain yang tidak diketahuinya.
lima hari saya larang diri saya untuk memencet sederet nomor itu.
tapi kesunyian itu terasa begitu memekakkan.
terasa begitu menyesakkan.
saya butuh suara.
saya butuh kata.
saya butuh …


bip bip.
one message received.
“Kamu ke mana? Call me. ASAP.”
saya tercenung diam.
jari saya bergerak tanpa bisa saya hentikan.
menekan sederet nomor yang telah dihafalnya.
“Halo?”
“KAMU KE MANA SIH?!”
saya diam.
tertegun mendengar suara ketus penuh amarah barusan.
rasa marah mulai menjalar.
memangnya dia siapa, bisa membentak saya seperti itu?!
namun sebelum mulut ini membuka,
mengucapkan kalimat yang tidak akan kalah pedasnya,
dia berkata lagi.
Kali ini dengan lirih.
“I thought I’ve lost you.”


Ya Tuhan.
semua kata menguap lenyap tanpa mampu tersampaikan.
saya hanya bisa terdiam.


pandangan saya mendadak kabur
jari saya bergerak, mengusap mata agar pandangan kembali jernih
dan sekali lagi saya tertegun
menatap ujung jari saya yang basah


saya menangis?




previous part : 06. The Conversation
next part : 08. Confession

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s