dia (bagian tiga)

Standard

BAGIAN TIGA

“Halo?”

hey ada apa?
kenapa suara dia begitu lemas?
seperti bukan dia.
dia harusnya menyambut telepon ini dengan bersemangat.
dengan nada suara yang ceria.
apalagi dia tahu persis seberapa jarang dia menelepon akhir-akhir ini.
harusnya telepon ini malah disambut dengan gegap gempita!

“Hey. Kok suara kamu lemas banget?”

diam sejenak.

“Iya. Ada tugas dadakan di kantor. Lagi setengah panik.”

sialan.
giliran dia menelepon, situasinya sedang tidak baik.
dia harus melarikan diri, cepat!

dia tak mau merasa diharuskan mendengarkan keluh kesahnya
dia tak mau merasa diharuskan memberikan solusi atas kepanikannya
semua itu bukan tanggung jawabnya
setidaknya, saat ini belum
entah suatu hari nanti.

“Oke. Nanti aku telepon lagi deh ya,”

dia tidak membantah.
telepon ditutup.

dia pun membereskan meja, lalu keluar ruangan untuk menikmati makan siangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s