dia (bagian satu)

Standard

BAGIAN SATU

ponsel itu tergeletak di atas meja.
dia diam. masih diam.

sesekali berbunyi. bergetar.

tapi bukan, bukan itu yang dia harapkan.

karena tetap saja, bukan dia.

dia menghela nafas sebal.
seharusnya dia sudah pergi meninggalkan semua ini sejak beberapa minggu yang lalu.

tapi tidak, dia tidak pergi.

tidak bisa. Atau mungkin tidak mau.

entahlah dia pun tidak tahu ada apa sebenarnya

dia hanya tahu saat ini dia masih ada disini.

menelan rasa pahit yang terkamuflase dalih keyakinan

keyakinan bahwa semuanya (masih) baik-baik saja.

tapi ..
bisa jadi dia bukannya sedang berusaha berpikir positif
melainkan menolak melihat kenyataan
entahlah
positivity dan denial nyaris sulit terbeda.

telepon itu masih diam.
sesekali berbunyi. bergetar.
tapi bukan, bukan itu yang dia harapkan.
karena tetap saja, bukan dia.


beberapa belas hari lagi
mungkin semua ini akhirnya akan mencapai akhir
sebuah akhir yang telah tertunda sekian kali

beberapa belas hari lagi
mungkin semua akan benar-benar berakhir.

ah.
dia sudah tahu semuanya akan berakhir nanti.
kenapa masih terus menunggu dan terus berpura-pura tidak kehilangannya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s