tiket komitmen

Standard

call me weird.
tapi menurut saya sebuah tiket perjalanan ber-nama adalah sebuah tuntutan komitmen yang laten dan tidak disadari semua pihak.

berawal dari kejadian tahun 2006, dimana saya dan seseorang yang sama-sama sedang dimabuk asmara (halaahhh) jail booking tiket promosi airasia ke Bali. perjalanan masih sekitar enam bulan lagi, tapi tiket akhirnya di-booking dan di-issued saat itu juga. dengan kesepakatan kedua belah pihak. dan saat itu karena saya yang melakukan online booking, akhirnya menggunakan kartu kredit saya.
sempat ragu-ragu juga, mikir sekali-duakali-tigakali. nggak yakin juga apakah kita masih pacaran enam bulan lagi. tapi akhirnya saya beranikan diri.
dengan pikiran idealisme, bahwa ini adalah salah satu bentuk kepercayaan saya terhadap hubungan ini (jie jie .. hahahaha)

akhir cerita sudah ditebak. kami nggak jadi pergi. we broke up two months before the trip (nggaaakk .. i won’t let you all calculate how long we’re together .. bweeee!!) dan tiket itupun mubazir.
kami memang sudah berteman lagi pada tanggal kepergian itu, tapi rasanya aneh pergi bareng kesana dengan konteks hubungan seperti itu.
sempet berniat menjualnya pada orang lain, tapi mengingat tiket promo nggak bisa diganti namanya, sepertinya tidak tega juga menjual pada orang lain – kalau ada kecelakaan atau apa artinya nama orang tersebut nggak akan terdaftar pada list penumpang pesawat.
oh, well.
akhirnya saya relakan saja tiket itu pergi. tiket dan duit itu ..
hiks.

dan sekaraaaanggg ..
saya sedang menghadapi dilema yang (nyaris) sama. saya berencana mengikuti sebuah perjalanan cukup jauh (karena itu tiketnya juga lebih mahal) dua bulan lagi. perjalanan itu diikuti oleh banyak orang, tapi terus terang saya ikut karena ajakan seseorang yang juga ada disana.
tiket sudah harus di-issued beberapa hari lagi. hotel sudah akan di-booking akhir bulan ini. semua mengharuskan saya untuk membayar 3/4 dari total biaya kepergian dalam waktu kurang dari dua minggu.

seriously ..
rasanya seperti diajak patungan booking gedung resepsi padahal baru pacaran dua hari!
(beneran, ini cuma perumpamaan. nggak usah repot mikir jauh-jauh ya. cuma majas perumpamaan!)

takut. was-was. pesimis.
pengen pergi. tapi belum tentu situasi dua bulan lagi masih sama seperti saat ini.
perjalanan ini tentunya nggak boleh batal, karena saya sudah terlanjur jatuh miskin membayar tiga-perempat biayanya yang jatuh tempo sebentar lagi.

kalau saya sudah membayar semuanya, berarti saya sudah komitmen untuk ikut pergi. apapun konsekuensinya. apapun kondisinya. apapun yang akan terjadi dalam waktu dua bulan ini.

astaga.
saya takut.
saya tahu, saya memang cupu untuk takut dengan hal beginian.
tapi rasanya dua lembar tiket pp atas nama saya itu telah memaksa saya untuk berkomitmen terhadap sesuatu yang belum saya yakini.

beuh.
gimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s