06. The Conversation

Standard

 “I’ve been thinking about you.”
[bolehkah? bolehkah saya berkata bahwa saya juga memikirkannya?]
“Sempat ingin menelepon, tanya kabar. tapi akhirnya tidak jadi juga ..”
[bolehkah? bolehkah saya mengaku bahwa saya juga seringkali melakukan hal yang sama?]
“I know that I shouldn’t do this. But I want to meet you.”
[bolehkah? bolehkah saya …]
“Let’s meet.”
[bibir saya telah mengalahkan pikiran saya]

Hari, minggu, dan bulan merengut tidak setuju saat saya melangkah menuju kafe itu.
Persetan. Saya tak peduli.
Lihatlah dia
. Duduk di sana. Sendirian.
Dia
tersenyum saat menyadari kedatangan saya.
Bagaimana saya bisa memaksa kaki saya melangkah pergi?
Mereka malah berdansa, bukannya berjalan anggun, menghampiri dia!

“Apa kabar?” saya mencium pipinya sebelum akhirnya duduk di hadapannya.
Dia tersenyum.
“Sudah check in? Should we go there now?” saya sudah hampir berdiri, namun dia menahan pergelangan tangan saya.
“Let’s not have sex today,”
Saya tertegun menatapnya.
“Let’s talk,” dia tersenyum, “It’s our conversation that I missed. Not the sex.”
Saya terdiam.
Mendadak merasa malu, dan tak mampu.
Kenapa kami tak segera menuju ranjang?!

Ranjang adalah daerah jajahan saya, bidang kekuasaan saya.

Saya tahu setiap inci dari segala hal yang ada di sana.
Saya adalah seorang pemula dalam hal bercakap-cakap.

Saya tidak mampu bercakap-cakap. Saya hanya bisa meracau.

Meracau sebagai efek euforia dari orgasme.
Dan meracau sama sekali tidak sama dengan bercakap-cakap!
 

“It’s not that hard,” dia tersenyum.
Saya menatapnya.

“Mungkin saya yang mulai duluan ya?”
Lalu dia pun mulai berbicara, dengan kesadaran penuh dan akal yang jernih.
Bukan akal yang berkabut karena hormon yang membuncah.

Bukan kesadaran yang setengah-setengah akibat dari gairah yang semakin memuncak. 

Dan saya?
Saya mendengarkan. Menjawab saat dia bertanya.

Mulai berbicara agak panjang saat dia mulai memancing saya dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Mulai tersenyum mendengar komentar-komentar cerdasnya terhadap kata-kata saya.
Ah. Saya tidak ingat kapan saya terakhir kali bercakap-cakap dengan seseorang.
Bercakap-cakap dengan rangkaian kata, bukan dengan ekspresi wajah maupun bahasa tubuh yang menggoda.

Bercakap-cakap dengan rangkaian pertanyaan dan cerita, bukan dengan teknik permainan canggih ala Kama Sutra demi mencapai multiple orgasm.

We’re having conversation now.
Not sex.

previous part : 05. hanya. ada. diam
next part : 07. Candu

  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s