04. Moving On

Standard

Saya menguap jenuh seraya menggeliat sedikit.
M
eraih sebatang rokok. Kemudian menyalakannya.
Menoleh ke arah asal suara
sesenggukan yang sayup terdengar.
Sialan. Dia masih saja
terisak.
Merepet mengenai istrinya yang menunggu kepulangannya dengan setia di rumah, sembari mendekap bayi mereka yang baru lahir
..
S
ementara dia berasyik-masyuk dengan saya

Ah, sudah. Berhentilah menyalahkan saya.
I don’t remember him complaining when I gave
him a b**w job..
Jadi
tak perlu menyalahkan saya tentunya..

Kalaupun salah, saya hanya keliru menilai.
Saya kira dia seorang pemain kawakan
.
Saya kira dia sama seperti sang pemain kawakan
.
Tapi tidak.
He’s not him

Bahkan jauh dari kawakan
. Dan air matanya menjelaskan itu.

Dia hanya seorang suami setia,
yang kebetulan tampil gaya dengan setelan mahal dan senyum memikat menggoda
.
Yang kebetulan tak mampu menolak saya,

yang telah keliru menerjemahkan senyum dan tatapan matanya yang
seolah menelanjangi saya.
Yang kebetulan juga tak menolak ketika saya sepintas lalu melontarkan ide untuk minum kopi di kamar saya
.

Yeah. Minum kopi. Lalu berbagi orgasme.
Tidak, saya tak dengar dia berkata
tidak sedari tadi.
Apa jangan-jangan saya yang mulai tuli?

Ah sepertinya tidak.
Saya tadi masih bisa dengar bisikannya yang penuh gairah saat dia melepaskan gaun saya
penuh nafsu.



Ah.
Desah isaknya
mulai terasa menganggu.

Saya ingin meracau.
Tapi saya tahu, tak ada yang mau mendengar.

Telinga lelaki ini terlalu penuh dengan isakan untuk dapat mendengar racauan saya
.
Pikiran saya melayang ke sang pemain kawakan
.
Bila dia ada di sini, dia pasti akan memeluk saya seusai bercinta
.
K
emudian mulai meracau, seperti dia berganti mendengarkan semua racauan saya.
Bukannya menangis, seperti lelaki cengeng yang masih berbaring setengah telanjang di sebelah saya
sekarang.
Sialan.

Saya bangkit berdiri.
M
ematikan rokok.
L
alu memungut seluruh pakaian saya yang terserak di lantai.
Kemudian
mulai mengenakannya.
S
atu per satu.

Dia menoleh. Menatap saya.
Saya menyambar tas dan kunci mobil, lalu membuka pintu.
Kali ini dia tak tahan untuk tak bertanya,
“You’re leaving? Ini kan’ kamarmu?”
“Saya tak akan tidur di sini malam ini. Pastikan pintunya terkunci sebelum kau tinggalkan.”

Saya menutup pintu di belakang saya.
Saya tahu dia akan pergi dari sana kurang dari setengah jam sejak saya meninggalkannya.

Peduli setan kamar itu akan mubazir malam ini.

Kantor saya tidak akan jatuh bangkrut karena kemubaziran semalam dari sebuah kamar hotel bintang empat
.
 
Wah.
Berarti kantor juga yang membiayai kemasyukan saya barusan?
Damn it.
I am getting good.


previous part : 03. Break Up
next part : 05. hanya. ada. diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s