Blood Diamond

Standard


Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

ah. akhirnya gue nonton juga film ini.

okay, it might seem a bit late for me to review this movie, but i just feel like i have to do this. so bear with me, would you? hehehehhee.

anyway, temen-temen sealmamater gue di jurusan HI (Hubungan Internasional) Unpar bilang kalo film ini HI banget. ah, kami memang selalu menyebut istilah itu, setiap kali melihat/mendengar sesuatu, ataupun mendiskusikan sesuatu yang berbau-bau isu internasional, since these things don’t happen everyday. diskusinya maksudnya, bukan isu internasionalnya.
Well, ternyata bener. Kemarin saat gue nonton film ini di DVD, gue serasa flashback terhadap istilah-istilah yang gue selami semasa kuliah s1 dulu. conflict resolutions. small arms and weapons. freedom fighters. corrupted government. non governmental organizations (NGOs). Semua itu bikin mata gue sukses nempel ke seluruh dialog dan bagian dari film itu, bahkan telepon yang masuk pun gue balas dengan setengah hati.

anyway, buat yang belum nonton, film ini mengisahkan tentang Blood Diamond – sebutan untuk berlian yang berasal dari daerah-daerah konflik, dimana keberadaan berlian tersebut justru memicu konflik berdarah di negara asalnya, mengorbankan jutaan nyawa warga setempat yang mungkin sama sekali nggak pernah melihat bagaimana rupanya sebuah berlian yang sudah dipoles dan dijual di butik Tiffany’s, Cartier atau salah satu juragan berlian yang dibahas di film ini, sebuah korporat di bawah nama Van De Kapp.
Danny Archer (Leonardo DiCaprio) adalah seorang kulit putih kelahiran Zimbabwe (this might explains his weird accent. agak2 British, tapi nggak juga. entahlah, gue nggak terlalu yakin bagaimana sebenernya aksen Inggris di benua Afrika sana) yang menjadi penyelundup berlian untuk korporat bernama Van De Kapp tadi. Isu pelarangan ekspor berlian yang berasal dari daerah konflik sudah merebak sedemikian rupa, sehingga untuk mengekspor berlian mentah yang diambil dari Sierra Leone (setting utama film ini) haruslah diselundupkan secara ilegal ke Liberia (negara tetangga) untuk diekspor secara legal ke Inggris, untuk diolah, dipoles dan dijual dengan harga yang sangat mahal.
Film ini menceritakan ambisi Archer dalam mendapatkan kepingan berlian sebesar 100 karat yang ditemukan oleh Salomon Vandy (Djimon Honsou), untuk dijual dengan harga yang mahal, yang rencananya akan digunakan oleh Archer untuk keluar dari benua Afrika. Tapi perjalanan mengejar kepingan berlian ini membuatnya mengenal Vandy, seorang ayah yang terpisah dari keluarganya setelah RUF (Revolutionary United Front) menyerang desanya – karena itu dia bertekad untuk menemukan keluarganya kembali. Selain itu Archer juga berkenalan dengan Maddy Bowen (Jennifer Connelly), seorang jurnalis asal Amerika yang ingin membongkar sindikat korporat berlian kelas dunia seperti van de Kapp, yang secara tidak langsung menjadi sebab semua konflik berdarah ini. Bowen kemudian menjadi salah satu tokoh yang cukup penting bagi Archer dan Vandy, karena sebagai pers internasional, dia memiliki berbagai akses yang kemudian membantu Archer dan Vandy mencapai tempat persembunyian berlian itu, maupun untuk menemukan keluarga Vandy.

Reaksi yang sama yang gue dapatkan saat nonton Lord of War (filmnya Nicholas Cage), gue miris banget melihat small arms (senjata-senjata kecil seperti pistol, rifle, dll) dipegang oleh anak-anak kecil Afrika itu, yang diajarkan untuk membunuh.
Di saat anak kecil Indonesia mungkin belajar kalimat sederhana “Ini Ibu Budi ..” mereka justru mengumandangkan berulang-ulang frase singkat “Shed their blood!” yang ditujukan bagi mereka yang tidak mau tunduk pada perintah mereka, saat mereka direkrut oleh RUF, diajarkan untuk menggunakan senjata, berpesta bahkan menggunakan obat bius.
Banyak sekali scene yang mengiris hati di sepanjang film ini, maybe a bit too much to mention. Banyak juga line yang begitu ironis, salah satunya adalah line yang diucapkan Colonel Coetzee, mantan komandannya Archer semasa perang Angola, dimana dia bilang bahwa tanah Afrika (yang memang warnanya coklat kemerahan) berwarna seperti ini karena begitu banyaknya darah orang Afrika yang tercurah di sana.
Ada satu lagi line favorit gue, yang diucapkan Archer saat pertama kali bertemu Maddy Bowen.
Kurang lebih dia bilang begini (ah gue juga lupa persisnya apa) “International organizations come to help and leave when they realize they haven’t helped anyone, the rebels are not sure they want to takeover the government because they would have to govern this mess, and the government will only try to take as much as they can while they govern, so they can leave this place and never look back.”
well, that actually sums up all the problem, ya ga sih? Sepertinya memang itu kenyataannya. Karena itu juga begitu sulit untuk menyelesaikan konflik di Afrika, tak peduli seberapa banyak usaha di luar benua itu untuk membantu penyelesaian konflik. Selama pemerintahnya nggak peduli sama rakyatnya, negara-negara konflik ini nggak akan pernah bisa keluar dari semua itu.

Sejujurnya gue nggak terlalu update bagaimana keadaan Afrika sekarang. The war has pretty much ended (epilog film itu bilang Sierra Leone sudah tidak lagi perang) tapi pastinya trauma, kemiskinan dan kelaparan tetap saja menguasai rakyat negara-negara itu – yang membutuhkan belasan atau mungkin puluhan tahun sampai mereka benar-benar hidup layak.

oh well.

anyway, ada yang bilang film ini jadi kurang menarik karena terlalu menonjolkan sosok Leonardo DiCaprio. Tapi menurut gue sih nggak. Entah ya, bisa jadi gue aja yang terlalu sibuk memperhatikan frame masalah yang lebih besar yang ada di dalam film ini, sehingga luput untuk memperhatikan kegantengan aktor satu ini. Hehehehe.

This movie’s worth to watch, guys. Definitely.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s