Pembulatan

Standard


pernah baca kampanye retailer raksasa “Kami Menghargai Setiap Rupiah Anda”, yang biasanya ditaruh di banner gede-gede sekitar store mereka?
*kalo di mal ambassador, letaknya di tembok eskalator menuju basement. dan cuma disitu aja yang gue ingat persis letaknya dimana*

disitu, retailer raksasa ini bilang bahwa mereka melakukan pembulatan ke bawah untuk transaksi. jadi contoh, kalau transaksi lo bernilai Rp. 15.036,-, lo hanya harus membayar Rp. 15,000,-. jadi kembaliannya pun disesuaikan. bukannya diganti permen atau apa.

anyway, gue nggak pernah “menghargai” kebijakan mereka satu itu, karena sepertinya pembulatan ke bawah itu hanya melibatkan beberapa puluh rupiah yang nggak bisa dipakai untuk beli barang lain juga.

sampai pagi ini, gue mampir ke minimarket di rest area km 19 (yang ada starbucksnya. maapkeun, kantor gue di luar kota siyh, jadi maenannya memang rest area .. hahaha ..) dan di sana gue beli tisu dan keripik kentang.

anyway, total belanjaan gue adalah Rp. 17.025,-
dan mbak-mbaknya dengan manis menyebut, “tujuh belas ribu seratus, mbak,”

gue mengeluarkan uang Rp. 50.000 dan bilang nggak punya Rp. 100 (supaya kembaliannya bulat) – dan gue juga sebut, lagian itu kan Rp. 25 bukannya Rp. 100 (maksud gue, dari Rp. 25 ke Rp. 100 kan sama aja pembulatan 4 kali lipat. beda halnya kalo angkanya itu Rp. 75 yang lebih mendekati Rp. 100)

dan mbak itu menerima uang Rp. 50.000 gue, dan mengembalikan uang gue sebesar Rp. 32.900.

udah. itu aja.

nggak dibulatkan ke Rp. 32.950 (dengan begitu mereka hanya mendapat “sisa” sebesar Rp. 25, bukannya Rp. 75 kalau mereka membulatkan kembalian gue jadi Rp. 32.900)

nggak dapet permen juga. jadi sama aja Rp. 75 itu gue sumbangkan ke minimarketĀ  itu secara “paksa” karena gue nggak mendapatkan kompensasi apa-apa dari situ.

gue bahas ini bukan karena masalah duitnya sih.

tapi masalah bahwa mereka sama sekali nggak peduli sama konsumen. minjem istilah retailer raksasa itu, mereka “nggak menghargai setiap rupiah” yang dikeluarkan konsumen.

coba kalau ada 100 orang aja, yang diperlakukan seperti itu. mereka udah mendapatkan Rp. 7500,- tanpa berjerih payah apa-apa. tanpa memberikan kompensasi apa-apa ke konsumen.
duit yang dianggap sisa dan nggak ada artinya, bisa jadi gede juga kalau terakumulasi. dan gue yakin minimarket itu pengunjungnya cukup ramai, karena itu satu-satunya minimarket di rest area tersebut. mungkin bisa 100 transaksi per hari atau lebih.

menurut lo gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s