Obsesi

Standard

tiga tahun yang lalu. bertemu dia. nyaris tidak bisa bernafas. dia begitu hebat. penuh pesona. cerdas. dulu rasanya excited sekali mendapatkan kartu namanya. meski cuma bisa dikontak via email, karena dia sedang ditempatkan di salah satu negara di tengah benua di utara. beberapa kali berbalas email, dan akhirnya terhenti.
hilang kontak.

setahun berikutnya. bertemu dia lagi. sebelumnya benar-benar nyaris lupa akan eksistensinya. tapi saat lihat dia, langsung ingat semuanya. namanya. jabatannya. senyumnya. pesonanya. dan dia juga ingat saya. mengobrol beberapa kali sepanjang hari itu. bertukar nomor ponsel. diakhiri dengan makan malam bersama. awal dari rentetan telepon. sms. pertemuan-pertemuan sekali dalam beberapa bulan. dia membuat saya gila. gila akan pesonanya. gila akan segala euforia karena berhasil meraih obsesi.

setiap kali bersamanya, perasaan yang sama selalu muncul. euforia. karena ini saya jadi gila. gila karena ingin bersamanya. ingin menyentuh kulitnya.

dia obsesi saya. mungkin karena bisa disentuh.
tapi tak pernah bisa dimiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s