Babel

Standard


Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Butuh kesabaran dan konsentrasi untuk menangkap bagusnya film ini ..
hehehehe ..

Semua cerita berawal dari sebuah senapan rifle, yang baru dibeli oleh seorang juragan kambing di Maroko, yang kemudian diberikan pada anak-anaknya untuk digunakan menembak srigala yang mengancam kambing-kambingnya saat sedang dibawa merumput.
Hehehe .. okay, i know you’ve heard this thing from every review you read.
but the thing is, ada 4 plot cerita di film ini yang terjadi di belahan bumi yang berbeda, yang ajaibnya, semua tersambung hanya karena sepucuk rifle.

Ada tiga plot yang jelas terhubung karena rifle.
Salah satu plot dibiarkan mengalir, dimana akhirnya terungkap sendiri apa hubungan plot ini dengan rifle tersebut. Not too surprising, though, karena hubungan plot terakhir ini bisa dibilang “biasa” dan nggak membuat kita berkomentar “ohh .. jadi ternyata sebenarnya begitu?”
(tipe-tipe plot film kayak di Berbagi Suami .. di film Berbagai Suami, dijelaskan dengan gamblang hubungan antara satu adegan dengan yang lain, meski nggak ada hubungan sebab-akibat sama sekali – sedangkan kalau di Babel iya)

ada Richard dan Susan Jones, yang sedang tour di Maroko, dalam rangka menyelamatkan pernikahan mereka yang retak setelah Richard “sempat kabur” setelah anak bungsu mereka, Sam, meninggal dalam tidur.

ada Amelia, warga Meksiko yang bekerja secara ilegal di Amerika sebagai pengasuh anak – Mark dan Debbie – yang harus menghadiri pernikahan putranya di Meksiko, sedangkan tidak ada orang yang bisa menggantikannya. Amelia akhirnya mengajak Mark dan Debbie ke pesta pernikahan itu di Meksiko, dan mengalami masalah berat di perbatasan saat mereka kembali ke wilayah US, bersama keponakan Amelia, Santiago. Masalah ini mendorong mereka menerobos perbatasan, dan Santiago menurunkan Amelia dan kedua anak itu di tengah gurun demi menghindari kejaran polisi.

ada Chieko, seorang anak bisu-tuli yang kesepian tinggal bersama Ayahnya setelah Ibunya meninggal dunia di apartemen mewah keluarga mereka di Jepang. Reaksi wajar seorang abg yang selalu “tersingkir” dari pergaulan karena kondisinya, Chieko mencari-cari perhatian dengan berbagai cara – termasuk menggoda dokter gigi dan polisi yang datang ke apartemennya.

Dan terakhir, seorang juragan kambing dengan ketiga anaknya (duh maaf, namanya gue ga yakin, takut ketuker sama tokoh yang ini dan yang itu). Dicari polisi karena rifle yang baru saja mereka beli digunakan untuk menembak turis Amerika dalam bis – yang menjadi kasus internasional, karena dianggap sebagai serangan teroris atas rombongan turis Amerika di Maroko.

Anyway, gue suka ide utama film ini.

It’s amazing to realize, how a simple things we do, the choices we make, may affect to other lives. Mungkin kehidupan orang sekitar kita. Or maybe the lives of the people which live at the other side of the world.

Efeknya nggak harus langsung. It may take a second, days, weeks, months or even years. Tapi pasti ada dampaknya ke orang lain ..

Nggak gampang membuat film yang terus konsisten dengan semua sub-plotnya, dan film ini berhasil melakukannya. Setiap plot ada proses emotional building-nya sendiri, ada flow-nya sendiri, ada konfliknya sendiri, dan semua itu terjaga dengan baik – meski setiap sekitar 5-10 menit film ini berpindah dari satu plot ke plot yang lain.

Setiap sub-plot juga punya tipe scene yang berbeda – scene yang cenderung tenang dan “easy on the eyes” untuk sub-plot yang terjadi di Maroko, sedangkan dua sub-plot lainnya sesekali diberi aksen dengan scene yang cepat berpindah-pindah, dengan lighting gemerlap dan suara yang menggelegar (pada sub plot Chieko, suara menggelegar ini sengaja dikontraskan dengan scene dimana tidak ada suara sama sekali – untuk memberi gambaran dunia dari sudut pandang Chieko)

Terus terang sub plot yang begini agak-agak irritating buat gue, secara gue sampai pusing menghadapi scene yang berpindah dengan sangat cepat, lighting yang menyilaukan dan suara yang memekakkan telinga .. kalo soal suara gue nggak tahu apakah itu salah bioskop atau filmnya .. tapi mungkin pengaruh karena gue nonton ini sambil kelaperan jadi sensi .. hehehe ..

Yang pasti film ini bener-bener bikin gue nggak bisa menduga kapan film ini akan berakhir, karena ya itu, tiap sub-plot punya masalahnya sendiri .. sehingga bisa jadi sub-plot itu berakhir pada waktu yang berbeda. Tapi nggak. They all ended in the same time, membuat kita nggak merasa “menggantung” saat film berakhir.

Oh ya, disini Brad Pitt bener-bener nggak kelihatan seperti Brad Pitt.
Well, secara fisik, ya tentunya masih mirip lah .. tapi dia berhasil menghilangkan image cowok ganteng dandy yang main di film Ocean’s Eleven (or Ocean’s Twelve, atau sekuel-sekuel lainnya) dan Mr & Mrs Smith. Disini dia bener-bener kelihatan membaur dengan seluruh scene, unlike some other similar movies, yang diperankan oleh aktor tenar, tapi malah membuat alur cerita berpusat di aktor tersebut (I think Blood Diamond and Mission Impossible are good examples of these symptoms)

Eh iya, ada catetan .. kalo pertama kali nonton film ini, mendingan jangan nonton di DVD deh. Apalagi dvd bajakan yang gambarnya masih burek dan teksnya masih kacau .. pasti setengah jam pertama langsung rasanya pengen matiin ajah ..😀

This movie is actually enjoyable, tapi keindahannya memang baru terasa kalau kita benar-benar konsentrasi mengikuti keseluruhan film ..
And like any other festival movies, film ini memang nggak bisa dibilang “kesukaan semua orang” karena agak berat, tapi gue setuju kalau film ini patut dapet penghargaan kayak Golden Globe Award🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s