Balada si Motor

Standard

guys, maaf ya ..
tulisan gue kali ini agak panjang ..
but please, read along, sebenernya ga seribet itu kok ..🙂

Minggu lalu, ada seseorang yang
minta gue membuat sebuah tulisan mengenai eksistensi sepeda motor dalam lalu
lintas jaman sekarang. Betapa motor seringkali dianggap masyarakat kelas dua,
dan sebenarnya hak mereka haruslah lebih diprioritaskan.

Terus terang, sebagai pengguna
kendaraan umum dan mobil pribadi, gue cenderung untuk memandang negatif para
pengguna motor, jadi kemaren agak males untuk bener-bener buat tulisan tentang
ini.

Anyway,
beberapa hari yang lalu gue baca cerita tentang satu keluarga yang tewas pas
mudik naik motor, karena tabrakan dengan mobil yang melaju dari arah
sebaliknya. They were close to their
hometown,
mungkin tersenyum senang memikirkan sebentar lagi perjalanan
panjang mereka akan berakhir, dan mereka akan bertemu dengan sanak saudara
mereka. Tapi ternyata semuanya nggak berakhir seindah itu.

Berapa banyak pemudik yang
menggunakan motor tahun ini?

Ada sekitar 3 juta orang yang
menggunakan motor untuk travelling dari Jakarta ke kota-kota sekitarnya (Bogor,
Tangerang, Depok, Bekasi) semasa Lebaran.

Itu baru orang dewasanya. Belum
dihitung anak-anak.

Dan itu baru ke kota-kota sekitar.
Belum lagi yang ke kota-kota lain di Jawa, yang jaraknya bisa mencapai ratusan
kilometer.

Sekian juta orang pengguna motor,
dan tetap aja di jalanan belum ada pengaturan khusus untuk para pengguna motor.

Gue pernah lewat jalur pantura,
rame-rame sama rombongan lain, naik bis yang dicarter sendiri, beberapa tahun
yang lalu. Gue tahu persis bis-bis itu (termasuk bis gue) ngebutnya setengah
mati kalau udah malem. Dan jalan-jalan di pantura itu juga biasanya cuma
terdiri dari dua jalur, yang setiap jalur kayaknya udah ngepas banget kalo
dilewati sama kendaraan seukuran bis.

Dan motor-motor itu harus sharing
jalan yang sama dengan bis-bis itu.

Seriously,
gue nggak ngebayangin, gimana jadinya.

Gue bisa ngerti alasan kenapa
motor-motor itu memilih untuk brangkat mudik rame-rame. Untuk meminimalisir
kecelakaan dan bahaya. Karena dimana-mana sesuatu yang ukurannya lebih besar,
pasti lebih aman.

Kalau satu motor jalan sendirian,
lewat jalan pantura, mungkin kesenggol pantat bis juga belum tentu supirnya
ngeh.

Oke, mungkin gue berlebihan. Tapi
itulah gambaran ekstrimnya.

Beda kalau pantat bis itu hampir
menyerempet serombongan motor, sebelum kejadian apa-apa pasti udah ada suara
bising dari klakson ratusan motor yang bikin supirnya aware kalau dia nyaris
menabrak motor.

Motor selalu menjadi “anak bawang”
dalam penggunaan jalan. Hak-hak mereka untuk menggunakan jalan yang sama,
seolah selalu kalah sama kendaraan-kendaraan lain yang ukurannya lebih besar.

Tapi kadang-kadang motor juga
suka memanfaatkan kondisi mereka sebagai “anak bawang” itu sih …

Gue sering mendapati motor malah
jadi penyebab kemacetan di berbagai titik di jalanan, karena sifat mereka yang
suka seenaknya belok, memutar, jalan berlawanan arah, melangkahi pembatas
jalan, semuanya karena berpikir ukuran mereka kecil, jadi satu pelanggar pasti
nggak akan bikin “kemacetan nasional”.

Lah, kalau semua pengendara motor
mikir begitu, akhirnya jadi banyak motor melakukan hal yang sama, dan akhirnya
jadi banyak juga kan?

Jadi bikin macet juga kan?

Gue sering liat di pintu kereta
deket rumah gue, setiap pintu kereta ditutup ada antrian yang bener-bener
semrawut di kedua sisi pintu kereta. Bis ngetem, mobil pribadi, campur puluhan
motor. Motor-motor ini yang sering ngantri memenuhi kedua jalur jalanan (yang
mestinya, salah satunya itu jalur balik yang bakal dilewati oleh kendaraan dari
seberang rel), akhirnya pas pintu kereta dibuka, semuanya stuck, dan harus menanti motor-motor yang ngambil jalur salah ini
untuk “nyebrang rel” duluan, sehingga jalur itu bisa dilewati oleh kendaraan
dari seberang rel.

Ini yang gue lihat tiap hari.

Nggak salah dong, kalau gue
berpikir bahwa motor memang penyebab kemacetan, tukang melanggar aturan lalu
lintas, dengan excuse yang tadi gue
sebut, bahwa ukurannya kecil dan bisa dengan lincah bergerak kesana-kemari,
jadi nggak akan mengganggu lalu lintas. Nah itu kalau satu. Kalau banyak,
akhirnya ganggu juga kan?

Well
like it or not,
motor itu memang solusi paling ringkes dalam menyiasati
kemacetan Jakarta.

Ringkes. Murah. Cepat.

Dan banyaknya orang yang memilih
menggunakan motor untuk mudik, salah satu alasan terbesar karena biayanya lebih
murah daripada naik bis, kereta, apalagi pesawat. Mereka bisa bawa barang
apapun yang mereka mau (sepanjang masih bisa diakomodir sama motor mereka, gue
pernah lihat, kadang mereka bahkan memasang dua batang kayu di bagian belakang
jok, untuk membuat space tambahan, dimana mereka bisa meletakkan bawaan mereka)
dan mereka bisa berhenti kapan pun kalau mereka lelah, atau lapar.

Jumlah pengguna motor akan terus
bertambah, despite sifatnya yang
lebih rentan kecelakaan, dan mungkin udah saatnya ada regulasi tertentu yang
mengakomodir jenis kendaraan satu ini.

Regulasi seperti apa?

Gue belum tahu persis. Tapi yang
ada di otak gue, mungkin seperti jalur khusus motor, di jalanan dalam kota maupun jalan-jalan antar kota dan propinsi. Jalur yang hanya bisa
dilewati oleh motor, yang dipisahkan oleh pembatas jalan yang cukup tinggi
sehingga tidak bisa dilangkahi seenaknya. Pengendara motor lebih aman dalam
berkendara, dan mereka juga tidak menyebabkan kemacetan di jalur lainnya, yang
dilewati oleh kendaraan roda empat.

Namun regulasi apapun memang nggak
akan berhasil, kalau nggak diikuti kesadaran untuk mematuhinya.

Mengingat mental orang Indonesia, gue
langsung bisa bayangin, pasti bakal ada aja pengendara motor yang bandel, males
berpenuh-penuhan dalam jalur khusus motor dan akhirnya mereka menggunakan jalur
kendaraan roda empat – biar bisa salip sana-sini, biar lebih cepet jalannya.

Well,
tentunya nggak semua begitu. Dan gue yakin pengguna motor yang akan terlindungi
dengan pengadaan jalur khusus motor itu jumlahnya puluhan kali lebih banyak
daripada jumlah mereka yang membandel.

Mungkin udah waktunya memberi
sedikit perhatian pada pengguna motor. Jumlah mereka makin lama makin banyak.
Dan mereka juga bukan warga kelas dua, mereka punya hak yang sama seperti
mereka yang naik kendaraan roda empat.

Tapi pengendara motor juga harus
sadar … mereka juga bukan “anak bawang”. Peraturan lalu lintas berlaku sama
untuk mereka, seperti peraturan itu berlaku buat pengguna kendaraan roda empat.

Dengan kesadaran semacam ini,
mungkin akhirnya lalu lintas pun lebih tertib. Lebih aman. Lebih terkendali.

Tinggal sekarang masalahnya,
Jalan-jalan saat ini masih muat
nggak, kalau bikin jalur khusus motor?
Secara jalanan di jakarta
udah semakin menyempit karena jalur busway yang malang melintang (kadang di sebelah kiri
jalan, kadang sebelah kanan, kadang-kadang di tengah) … apakah masih muat kalau
dipisahkan satu jalur lagi buat motor?

Masalah transportasi dan
infrastrukturnya (seperti jalan raya) memang ribet. Menyangkut perencanaan kota yang harusnya
bersifat lebih matang, lebih bisa mendeteksi kebutuhan yang mendesak, lebih
punya visi nanti ke depannya gimana. Bukannya malah bikin proyek ini-itu yang
kelihatan sophisticated, tapi
sebenernya nggak menjawab kebutuhan masyarakat Jakarta.

Kalau memang banyakan orang Jakarta memilih pake
motor daripada busway, mungkin jalur buswaynya diubah fungsinya untuk jalur
motor aja ya?

Just
an idea.

few references :

http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0610/22/023306.htm
http://www.kompas.com/ver1/Lebaran/0610/21/143335.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s