seratus lima puluh ribu rupiah ..

Standard

semalam gue ke rumah sakit carolus, dalam rangka kebutuhan mendesak ke dokter (terpaksa cabut kuliah lagi dewh .. *aLah .. sok2 nyesel, padahal seneng*)

pas lagi nunggu obat di apotik, asik ngobrol sama lelaki pujaankuh yang menjemput *aLah* mendadak gue diajak ngobrol sama ibu-ibu yang menggendong anak, yang duduk di kursi tepat di depan gue.

tadinya gue ga terlalu ngeh sama dia. i mean, ibu-ibu itu berkulit gelap, menggendong anaknya dengan kain lusuh, menggenggam sebuah amplop berisi kertas yang sudah lecek, dan sedari tadi dia duduk di kursi depan gue. tapi gue pikir wajar bila orang seperti dia ada di sana, secara gue ada di rumah sakit, dan pemandangan seperti itu kan wajar saja.

sampai mendadak dia curhat ke gue. ke kita tepatnya.

Ibu itu namanya Ibu Dede. anaknya, namanya Rahman, adalah penderita tumor ganas di bagian panggul belakang sejak lahir (sekarang usianya 6 tahun). tumor ganas itu yang membuat anaknya nggak bisa jalan, dan kakinya lumpuh. selama ini penyakit diatasi dengan berobat jalan, yang tentunya nggak efektif dalam usaha penyembuhan penyakit separah itu. Dia bekerja sebagai kuli cuci, anaknya lima (Rahman adalah anaknya yang paling kecil, dan anak tertuanya sudah kelas 3 SMP) dan suaminya kabur sejak Rahman usia 2 tahun.

Hari ini dia datang ke apotik St Carolus, untuk meminta obat gratis, dan rumah sakit menjawab TIDAK. Sebelumnya dia sudah mencoba ke RSCM, dan jawabannya tetap sama. Meski dia sudah menggenggam lembaran surat keterangan tidak mampu dari RT/RW dan kelurahan rumahnya di Bekasi.
Dia tidak membawa resep dari dokter anaknya, karena ia sangsi akan mendapatkan obat gratis. dia bilang baru akan ke dokter (yang lokasinya di dekat situ) kalau dia sudah pasti bisa mendapatkan obat gratis. obat gratis, yang katanya bila ditaksir, seharga Rp. 150.000,-.
Dia sudah mencoba mengirimkan ceritanya ke RCTI, berharap mendapatkan bantuan, namun belum mendapat jawaban.

gue dan temen gue terhenyak mendengar cerita dia.

kita bisa melihat bahwa obat jalan itu merupakan usaha yang sia-sia, karena obat sebanyak apapun nggak akan bisa menyembuhkan tumor ganas yang diderita anaknya. anaknya butuh operasi, yang memakan sekitar Rp. 20 juta.
jumlah segitu pun terasa sangat besar buat kita, apalagi buat dia ..
sangat ingin membantu, namun kita tahu kita juga nggak berdaya saat itu. kita nggak punya duit 20 juta untuk membayari operasi anaknya. sempat terpikir ingin menebus obat untuk anaknya, namun kita sadar bahwa itu solusi yang sementara. yang sia-sia.

Tapi Ibu itu bilang, sebenarnya bisa sangat terbantu kalau dia punya yang namanya kartu JAKIN. Kartu ini diterima di banyak rumah sakit, dan pemegang kartu ini akan dibebaskan dari segala biaya perawatan.
Kita nggak tahu apakah kartu JAKIN itu, dan bagaimana prosedur untuk mendapatkan kartu itu. Yang jelas, dia cerita, kartu JAKIN tersebut dikeluarkan oleh Kelurahan. Dan Kelurahan tempat dia bermukim bilang, dia harus membayar Rp. 150,000,- kalau mau kartu JAKINnya keluar dalam waktu seminggu.
Tanpa uang sejumlah itu, dia harus menunggu kartu keluar tahun 2009.

APA?!
gue nggak ngerti kenapa kartu yang begitu berarti buat rakyat miskin harus dimanfaatkan juga untuk mencari uang tambahan.
oke, mungkin gue nggak tahu persis prosedur pembuatan kartu itu. bisa jadi memang prosedurnya seperti itu. uang sejumlah itu mungkin memang harus dibayarkan.
tapi saat kemarin dengar cerita itu, yang gue pikirkan hanya mental govt officials kita yang korup, yang membuat gue langsung berpikir negatif – bahwa uang sejumlah itu adalah pungli yang dibebankan kepada rakyat miskin yang nggak berdaya.

oh well.

anyway, akhirnya kita hanya bisa membantu sekedarnya, agar Ibu itu bisa pulang ke rumahnya, memberi makan malam yang layak untuk dia dan anaknya, setelah sebelumnya meminta nama dan alamatnya di Bekasi.

kita sebenarnya nggak tahu apa yang bisa kita lakukan ..
tapi rasanya ingin mengusahakan bantuan untuk dia
meski masih belum tahu bagaimana caranya ..

sigh.

rasanya takjub aja
dunia yang dijalani bisa aja sama
tapi nasib bisa begitu berbeda

dunia yang gue jalani sehari hari adalah dunia dimana uang seratus lima puluh ribu rupiah hanya bisa digunakan untuk membeli sehelai t-shirt Zara atau biaya makan di luar untuk dua orang ..

dunia yang ibu itu jalani adalah dunia dimana uang seratus lima puluh ribu rupiah bisa membuka jalan akses pengobatan yang bisa menyelamatkan nyawa ..

ironic, huh?

saat sedang merenungkan hal itu, mendadak ada telepon dari temen seangkatan dulu, menanyakan apakah gue ikut melayat teman seangkatan yang meninggal ..
mendadak dia suruh gue untuk hold, karena ada telepon masuk
gue protes, karena menurut gue hold adalah pembuangan pulsa yang sia-sia ..
akhirnya telepon gue matikan ..

gue seolah ditarik kembali ke realitas
realitas gue, bukan realitas ibu itu ..

dimana uang seratus lima puluh ribu rupiah mungkin hanya habis untuk pulsa telepon ..

friends, kalau ada yang punya teman/kolega/sarana yang memungkinkan ibu ini dibantu, langsung aja kontak :

Ibu Dede Sulastri
nama anak : Rahman (6 th)
Kp. Dirgahayu RT 10, RW 011
Kel. Jatirahayu, Rawacerewet
Bekasi Barat

mungkin aja lewat word-of-mouth, anak ibu itu bisa terbantu ..
siapa tahu bersama-sama kita bisa menyelamatkan sebuah nyawa ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s