Drama Queen Myth : The Background Check

Standard


WARNING :
tulisan ini panjang, sekedar berbagi cerita. 
read at your own risk. no personal offense intended.
every content published in this post has been approved by the owner.

Katanya nih .. semua manusia saat dilahirkan ibarat kertas putih. Adalah pendidikan, pengalaman dan pembelajaran sepanjang hidup, yang kemudian memberikan warna-warna di kertas itu.

Karena itu juga, saya yakin bahwa setiap Drama Queen yang ada saat ini, juga lahir bersih seperti kertas putih.

Wait.
Apa itu Drama Queen?

Definisi bebas yang diambil dari contoh-contoh yang ada di dekat saya, Drama Queen adalah orang-orang (biasanya perempuan) yang cenderung mencari drama dalam hidupnya.
Dalam scope yang lebih luas, Drama Queen biasanya memberikan reaksi berlebihan (dramatis) terhadap sesuatu yang sebenarnya bisa dihadapi biasa saja.

Namun ada lagi jenis Drama Queen lain.
Yang ini khusus di aspek percintaan saja, yaitu orang-orang (tetap saja biasanya perempuan) yang cenderung mencari drama dalam setiap hubungannya dengan lawan jenis (bisa pacar, suami, atau bisa juga gebetan / calon pacar).

Drama yang dicari itu bisa positif atau negatif, yang pasti drama tersebut harus dapat memberikan goncangan emosi — entah emosi menyenangkan sehingga sang Drama Queen bisa semakin jatuh cinta terhadap pasangan, ATAU emosi menyakitkan yang menyebabkan sang Drama Queen menangis berderai-derai, but at the same time she feels so alive.

Drama Queen biasanya sangat realistis, bahkan cenderung apatis/sinis terhadap percintaan yang serba romantis.

Biasanya, bagi mereka nggak ada yang namanya cara pandang idealis maupun penuh harapan terhadap aspek percintaan. Love is like a diamond with rough edges, it’s (indeed) beautiful but it may hurt if we’re not careful.

Dan seringnya Drama Queen sulit membiarkan diri mereka sendiri untuk benar-benar jatuh cinta. Usually this is because they have been hurt too much, they just can’t let themselves free-falling again.

Contohnya siapa?
Well, Meredith Grey character from Grey’s Anatomy serial will be one perfect example :)

Okay.
Here’s the thing.

Kalau semua Drama Queen dilahirkan seperti kertas putih, dengan jalan kehidupan yang cukup umum dari kecil sampai remaja, there must be a phase when they’re all enthusiastic, dreamy and bubbly facing the guy they had crush on.

So what happened?
Something must have happened along the way, yang akhirnya membangunkan (kadang dengan cara menampar hehehe) sang-bakal-drama-queen dari gelembung mimpi indahnya dan mulai menjadi apatis dan sangat realistis terhadap cinta.
And those experiences will gradually change them into Drama Queens.

__________________________

Dua orang Drama Queen melakukan BACKGROUND CHECK suatu malam.
Guess what, here’s what they found in their past :


Background Check Drama Queen #1 - let’s call her Blair (beuh, Gossip Girl bener hahaha)
1.
At the age of 19,  Blair berpacaran dengan cowok anak jurusan teknik, sementara dia anak sosial – only after almost two months from her break-up with her first boyfriend. It turns out the new BF was possesive, and suicidal, due to his dark childhood memory with his family. Belum lagi adanya masalah saraf yang diidap sang pacar, yang mengakibatkan dia kejang-kejang setiap kali stres / emosional.

Alhasil, selama pacaran, Blair nggak pernah bisa bener-bener meluapkan kemarahannya sama ulah sang pacar. She tried hard to be patient, to be understanding karena setiap kali berantem hanya ada dua kemungkinan yang terjadi :
a. sang pacar kejang-kejang, ATAU
b. sang pacar meraih gunting dan meletakkannya di nadi dengan muka depresif.

Dan sang pacar akhirnya jadi menggantungkan hidupnya pada Blair (dari soal ngerjain tugas sampai menginvestigasi ayahnya yang dicurigai selingkuh di sebuah kota yang empat jam perjalanan darat jauhnya).

Until one day, sang pacar melewati batas.
Sang pacar membuka email Blair tanpa izin, menemukan email dari salah seorang teman cybernya di Hongkong (yang kebetulan laki-laki, and they have been friends for 4 years), and HE WROTE THAT GUY AN EMAIL (told him to stay away from Blair). He did all that by using Blair’s email – which password he stole without Blair realizing it.

She just can’t stand it anymore. Saat sang pacar datang ke rumahnya bersama salah seorang temannya, dia pun minta putus. It was a bad fight, until he walked away from the house feeling sad and depressed. Meskipun begitu, Blair masih agak tenang, berpikir sang pacar nggak akan kenapa-kenapa, karena teman sang pacar ada bersamanya.

But then, the BF succeeded to run away from the friend.
Not until 4 hours later, near midnight, ada telepon masuk ke ponsel Blair.
Unit Gawat Darurat rumah sakit setempat memberitahukan bahwa sang pacar masuk UGD karena ditemukan terbaring tak sadarkan diri di pinggir jalan dekat rumah sakit.

Semalaman itu sang pacar nggak mau minum obat kalau Blair nggak balikan sama dia, menyebabkan teman-teman sejurusannya itu bolak-balik membujuk Blair untuk balikan.

And Blair could only stared down onto the floor, she couldn’t cry anymore – she’s just too tired, and said, “Kamu nggak tahu gimana rasanya pacaran sama dia ..”

Malam itu Blair cuma bilang bahwa dia akan mempertimbangkannya lagi.
Sang (mantan) pacar minum obat, sang pacar pun sembuh. Sang pacar pun mulai membujuknya lagi lewat bunga, kartu maupun perilaku yang menyenangkan – tapi Blair sama sekali tak tergerak untuk balikan lagi.
For her it’s a total break-up, it was her way to get out of the relationship, dan dia nggak mau dipaksa untuk masuk ke dalam hubungan itu lagi.

And then another thing happened. Sang (mantan) pacar menelepon seorang lelaki yang tinggal di kota lain, teman lamanya Blair yang akhir-akhir ini jadi teman bicaranya – dan semua itu dilakukan tanpa izin (dari mengintip nomor ponselnya di ponsel Blair, sampai menelepon langsung lelaki itu).
Sang (mantan) pacar meminta lelaki itu menjauhi Blair.

Blair was pissed when she found out. She was trying to be nice, to make the transition easier to the (ex) BF, but she had had enough. Sebuah pembicaraan di kampus sore hari, dan Blair menegaskan bahwa dia nggak mau sang pacar ada di hidupnya lagi.
The (ex) BF walked away furiously in front of Blair, dan dengan sengaja berjalan di tengah jalan depan kampus yang ramai dilewati mobil – untuk mengancam Blair bahwa dia akan bunuh diri.

But Blair didn’t care.
Dia hanya menghela nafas lelah, lalu membelokkan langkah menuju rumahnya.
That’s the day when everything’s totally over.

2.
Bertahun-tahun kemudian, Blair berpacaran dengan lelaki lain. She fell head over heels dengan kecerdasan dan obrolan yang begitu menyenangkan bersama lelaki ini, tak peduli sebenarnya mereka baru saling kenal.
And yes, they didn’t know each other that well, so after the honeymoon period (first few weeks for them) they began to fight.
The last fight was really bad, until they decided to take time off from each other for a week.
A week later, they’ll meet on their usual place, to talk abt the future of the relationship.

A week passed.
Blair mengakui, dia memang salah karena masih saja menelepon sang pacar selama beberapa hari pertama. Tapi tiga hari terakhir dia berhenti menelepon / mengganggu sang pacar, dan hari yang dijanjikan dia menunggu sang pacar di tempat yang mereka janjikan.

She was sitting there, in the corner of Starbucks.
Alone and waiting.

He didn’t show up.

Orang rumahnya bilang sang pacar tidak di rumah. Blair mencoba menelepon ponsel sang pacar, tapi tidak bisa.
After an hour, Blair finally went into tears, realizing this was over.

A day after, the BF called.
They quarelled about last night and promised to meet again at the same place, same time the following night.

And this time Blair didn’t show up.

The BF called, furiously, after waiting for few minutes at Starbucks for her.
And she just said, “Oh, kirain nggak jadi lagi ..”

They broke up.

Blair then found out that the (ex) BF was watching movies with another girl that night (when she was stranded in Starbucks) after spending the weekend before with the same girl.

The girl was the one the (ex) BF had crushed on before her.

Background Check Drama Queen #2 - let’s call her Serena

1.
She was about 15-16, on the first grade of Senior High School when she had this crush with the school’s basketball captain. Cowok itu kelas tiga, dan tadinya berpacaran dengan seorang cewek yang sama-sama populernya.
But then they broke up, dan entah bagaimana Serena pun jadi dekat dengan sang kapten.
It was her birthday, saat sang kapten mendadak menembaknya dan memintanya jadi pacarnya. Wow. That was her best birthday ever!
Rasanya berbunga-bunga, dan begitu bahagia.
Tak peduli kakak kelas mantan pacar sang kapten menatapnya dengan sinis.

Keesokan harinya, dia tak bertemu sang kapten, karena pengaturan jadwal belajar ujian yang menyebabkan sang kapten libur sekolah.

Hari berikutnya lagi, dia kembali bertemu sang kapten. Tapi rasanya berbeda. Sang kapten terlihat dingin dan agak kaku. Serena mencoba untuk tetap positive thinking saat menunggui sang kapten latihan basket.

Latihan usai, sang kapten duduk di sebelah Serena.

Serena : (bertanya baik-baik) “Lagi ada apa sih? Capek dan stress ya, mau ujian?”
Sang Kapten : “Uhm .. nggak kok,”
(diam sejenak)
Sang Kapten : Uhm .. Serena, kayaknya kita mesti udahan deh,”
Serena : (kaget) “Maksudnya?”
Sang Kapten : “Si ***** (nama kakak kelas mantan pacar sang kapten) hamil.”

dan berakhirlah mimpi singkat Serena.
She was 16, and yet a man walked out on her because of his ex’s pregnancy.

2.
Years later, Serena bertemu dengan lelaki ini. They were in a long distance relationship selama dua setengah tahun, dan mereka pun sempat merencanakan akan menikah.

Serena, being a piano player, planned to give the BF a special gift. Dia menghabiskan waktu 5 (lima) jam di depan piano, menciptakan lagu khusus untuk sang pacar.

Serena told him, “Aku ada lagu buat kamu.”
Sang Pacar : “Oke. Nanti beberapa bulan lagi aku pulang untuk dengerin lagu kamu ya.”

But there’s no next few months.
Seminggu setelah itu, mereka bertengkar hebat dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

The song remained unlistened by the (ex) BF.

Dan Serena berhenti main piano selama tiga setengah tahun setelah kejadian itu.

__________________________

Hasil background check dari dua drama queen membuktikan bahwa ada titik-titik di masa lalu yang secara gradual membuat mereka menjadi seorang Drama Queen.

Drama Queen syndrome is not something that just happened. It can take years and various experiences to change someone into a Drama Queen.

But as we get older and wiser, we may find way to stop this syndrome.
To stop sabotaging our own way to happiness,
to finally let ourselves to be happy – with less drama.

So, are you a Drama Queen?
What makes you a Drama Queen?

Let’s do our own background check :)
 

images taken from here

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s